Blog

Kasus Munir Buat “Jualan” Pemilu 2009

Kritikan pedas langsung dilontarkan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Fadli Zon. Ia menuding, sikap ngotot Jaksa Agung Hendarman Supandji yang  akan melakukan kasasi terhadap putusan bebas Muchdi Pr tak lain sebagai lahan ‘jualan’ Presiden SBY untuk menaikkan popularitasnya jelang perhelatan Pemilu 2009. Kasus Munir, dianggap Fadli Zon juga sebagai alat untuk menutupi kelemahan pemerintahan SBY-JK yang tidak mampu memberikan perekonomian yang lebih baik kepada rakyatnya.

“Saya mendapatkan banyak masukan dari para ahli hukum, bahwa seseorang yang sudah divonis bebas, maka tidak bisa dilakukan kasasi lagi. Pak Muchdi kan divonis bebas murni, jadi akan sulit untuk dilakukan kasasi. Bagi kami, putusan terhadap pak Muchdi sudah berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan yang ada dan cukup adil. Jadi, sikap Jaksa Agung yang ngotot ingin kasasi, tak akan mungkin berhasil,” kata Fadli Zon dalam perbincangan khusus dengan Persda Network, Senin (5/1).

“Secara politik, kasus Munir ini memang terkesan untuk jualan dalam menghadapi Pemilu nanti. Kasus ini, terus dimainkan sengaja, untuk menutupi kegagalan pemerintahan ini dalam memperbaiki ekonomi, membuat rakyatnya bisa hidup baik. Seolah-olah, pemerintahan ini berhasil menegakkan hukum, padahal banyak masalah HAM yang sampai saat ini tak juga terselesaikan,” tandas Fadli Zon.

Fadli Zon kemudian memberi saran kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji  untuk tidak menggunakan uang negara bila tetap ingin mengajukan kasasi atas vonis bebas Muchdi Pr. Fadli beralasan, uang negara akan terkuras hanya untuk mengajukan kasasi yang belum tentu akan berhasil.

“Lebih baik Jaksa Agung menggunakan dana pribadi saja untuk mengajukan kasasi. Para pakar hukum yang sudah saya mintai pendapatnya, masalah ini sangat sulit untuk bisa memenangkan kasasi. Jadi, rencana kasasi ini lebih pada nuansa politisnya, atau politik pencitraan saja. Apalagi Jaksa Agung bertanggung jawab kepada presiden. Harusnya, putusan ini dihargai. Kecuali kalau Jaksa Agung pakai uang pribadi, bolehlah,” cetus Fadli Zon.

Fadli meyakini, rencana Jaksa Agung untuk melakukan kasasi, hanyalah didasari adanya tekanan dari pihak asing yang secara jelas. Apalagi, kata Fadli sebelumnya juga terungkap adanya tekanan dari parlemen Amerika Serikat terkait kasus ini.

“Bagi saya,  pemerintah telah melakukan diskriminasi terhadap kasus-kasus hukum yang lain. Kalau kita lihat, kasus HAM lain, misalnya kasus Trisakti, kasus kerusuhan Mei, sampai sekarang tak jelas penyelesaiannya. Terkesan, pemerintah hanya melayani permintaan salah satu LSM,” kata Fadli.

“Pak Muchdi punya hak untuk mendapatkan kepastian hukum, tidak dipermainkan oleh berbagai manuver politik,  apalagi kasus ini dijadikan sebagai bagian dari politik pencitraan jelang Pemilu,” tegasnya.

MegaPro Tiba Belakangan, Namun Paling Meriah

Diantara para pasangan kandidat presiden dan wakil presiden, kedatangan pasangan Megawati Sukarnoputri – Prabowo (MegaPro) ke gedung Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) tampak paling meriah, Sabtu pagi 30 Mei 2009. MegaPro disertai para buruh, tani, pemulung, dan aktivis partai.

Dari kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, MegaPro tiba di KPU paling akhir ketimbang pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto. Mereka berkumpul untuk menyaksikan pengundian nomor urut pasangan kandidat presiden dan wakil presiden pada pemilihan umum Juli mendatang.

Namun kedatangan MegaPro, yang tiba dengan bus carter, sangat meriah. Di belakang mereka juga diiringi sejumlah bus yang mengangkut para buruh, tani, pemulung, dan aktivis partai. Mereka pun ditemani iring-iringan motor yang membawa bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sedangkan para fungsionaris partai PDIP dan Gerindra yang mengiringi MegaPro diantaranya Gayus Lumbuun, Halida Hatta, Fadli Zon, Guruh Soekarnoputra, Tjahjo Kumolo, dan lain-lain. Tampak pula Mokhtar Pakpahan dari Partai Buruh.

Gayus menyatakan seusai dari KPU belum tahu apa agenda Megawati selanjutnya karena kemarin malam baru tiba dari Solo, jadi perlu waktu beristirahat. “Mengenai kampanye MegaPro baru hari akan dibahas roadshow nya seperti apa,” kata Gayus.

Fadli Zon dan Qodari Datangi Rumah Mega

Calon presiden dari PDIP dan Gerindra, Megawati Soekarnoputri sedang melakukan pengambilan gambar alias syuting di Pasar Blok A, Jakarta Selatan. Tetapi, petinggi Gerindra justru mendatangi  kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat.

Pantauan VIVAnews satu per satu tamu berdatangan ke kediaman pribadi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 25 Mei 2009.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, tiba sekitar pukul 11.40 WIB. Anggota Tim Kampanye Megawati-Prabowo ini tiba menggunakan Toyota Alphard dengan nomor polisi B 2779 FZ.

Setelah Fadli Zon, giliran Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari tiba di kediaman Megawati. Qodari datang dengan menaiki mobil Honda CRV berwarna hitam.

Tidak ada keterangan apapun yang disampaikan Fadli Zon dan Qodari. Yang pasti, kegiatan Megawati dan Prabowo hari ini adalah pengambilan gambar untuk iklan capres-cawapres Mega-Prabowo di televisi.

Siapa Eksekutif di Balik Bisnis Prabowo

Perkembangnya bisnis calon Wakil Presiden Prabowo Subianto tidak lepas dari para eksekutif yang terlibat di grup bisnis Nusantara Energy. Mereka pula yang membawa nilai aset grup bisnis putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo melesat hingga US$ 1 miliar.

Tampilnya Prabowo sebagai calon wakil presiden menarik perhatian berbagai kalangan. Apalagi, Prabowo dikenal sebagai calon paling kaya dengan total kekayaan yang disampaikan kepada Komisi Pemberantas Korupsi mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun.

Kepada VIVAnews, seorang kolega Prabowo menyebutkan sejumlah eksekutif yang menangani kerajaan bisnis Prabowo. Tentu saja selain adiknya, Hashim Djojohadikusumo, beberapa nama lain dikenal berperan besar dalam mengoperasikan bisnis Prabowo. Mereka adalah Widjono Hardjanto, Bambang Atmadja, Johan Teguh Sugianto dan Fadli Zon.

Prabowo banting setir terjun ke dunia bisnis setelah dipaksa nonaktif dari militer. Pulang dari Yordania, pada November 2001, Prabowo mendirikan Nusantara Energy bersama Johan Teguh Sugianto dan Widjono Hardjanto.

Grup bisnis ini kemudian berkembang pesat mulai dari kehutanan, kertas, perkebunan, tambang batu bara hingga perikanan. Prabowo mengendalikan puluhan perusahaannya tersebut dari kantor pusat di lantai 10, Menara Bidakara, Jakarta.

Lantas, siapa saja sesungguhnya para eksekutif yang berperan besar di balik bisnis Prabowo?

Pertama adalah Hashim Djojohadikusumo. Dia adalah adik kandung Prabowo yang dulu pernah berjaya dengan bendera Grup Tirtamas. Dulu dia dikenal sebagai seorang bankir yang memiliki sejumlah bank, seperti Bank Pelita, Bank Papan Sejahtera, Bank Istismarat. Hashim juga mantan pengendali perusahaan petrokimia besar, yakni Tuban Petrochemical.

Sekarang, Hashim dikenal ikut berperan di Nusantara Energy yang bergerak di bisnis migas. Nusantara Energy juga menguasai tambang-tambang batu bara, serta perkebunan kelapa sawit.

Widjono Hardjanto adalah seorang kolega yang bersama-sama dengan Prabowo mendirikan Nusantara Energy. Widjono sekarang memegang sejumlah jabatan di perusahaan Prabowo, salah satunya sebagai Komisaris Utama PT Kertas Nusantara, pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara.

Bambang Atmadja adalah seorang eksekutif yang sudah 38 tahun malang melintang di berbagai sektor bisnis. Seorang akuntan jebolan FE UI ini pernah bekerja di perbankan, minuman, distribusi film, konstruksi, periklanan, semen, petrokimia, rokok, batu bara, lembaga investasi, pengembang, kertas serta kehutanan.

Dia sekarang menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO PT Kertas Nusantara, Direktur International Timber Corporation Indonesia, dan Komisaris PT Polytama Propindo. Dia juga menjadi pemilik dan direksi atau komisaris sejumlah perusahaan, seperti PT Anugerah Utama Multifinance, PT Berkat Banua Inti, Westlink Property Development Ltd dan Rivergate Development Pty Ltd di Perth, Australia.

Fadli Zon dikenal cukup lama sebagai tangan kanan Prabowo. Alumnus jebolan Sastra Rusia UI ini sekarang menjabat sebagai direktur di sejumlah perusahaan milik Prabowo. Di antaranya adalah Direktur PT Tidar Kerinci Agung, Komisaris Utama PT Tambang Sungai Suir, Direktur PT Padi Nusantara, serta Komisaris PT Susu Nusantara.

Deklarasi Mega-Prabowo di Bantar Gebang Sederhana

Pasangan Mega-Prabowo sedang mempersiapkan deklarasi mereka pada 24 Mei mendatang di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengaku biaya yang dikeluarkan untuk deklarasi tersebut sangat sederhana karena banyak dibantu oleh simpatisan dan kader-kader partai.

“Saya kira anggarannya sederhana saja. Ini dikerjakan gotong royong, setiap orang membantu, kader juga bantu jadi nggak ada biaya seperti yang diberitakan media massa,” ujarnya usai diskusi bertajuk ‘Boediono Operator Neolib atau IMF di Indonesia?’  di Gedung YTKI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/5/2009).

Ketika ditanya mengenai besar anggaran yang dikeluarkan untuk kampanye Mega-Prabowo yang disebut-sebut menghabiskan dana Rp 15 miliar Fadli langsung membantahnya.

“Wah kata siapa? Kalau Rp 15 M itu paling untuk 1 atau 2 caleg mungkin. Itu kan ada bidang yang mengatur, menyangkut soal biaya, ada bendahara yang menyusun itu,” kata Fadli.

Fadli mengatakan bukan soal berapa biaya yang dikeluarkan. Tapi semangat mendukung dan memenangkan pasangan Mega-Prabowo.

“Tidak perlu pakai prosentase. Kita pakai anggaran gotong royong, dari PDIP, Gerindra, caleg-caleg, dan masyakarat yang mendukung visi misi Mega-Prabowo,” tuturnya.

Pada saat kampanye, Fadli menjelaskan tidak akan melakukan kampanye yang jor-joran karena melihat antusiasme masyarakat terhadap calon-calon presiden yang sudah tinggi.

“Kita bukan jor-joran, kita pasangan akhir deklarasi, tapi tentunya persiapan sudah dimulai. Antusiasme masyarakat sudah tinggi semua sudah dipersiapakan oleh masing-masing tim kandidat calon,” tandasnya.

Mengenai strategi pemenangan, tim kampanye tentu sudah banyak mempersiapkan masak-masak. Karena ia mengaku pasangan Mega-Prabowo ingin membentuk imej yang pro ekonomi rakyat.

“Kita terus mendukung pencitraan atau imej yang pro rakyat. Kita juga menggalang kekuatan dari Ormas, dan masyarakat luas,” katanya.

Kebakaran di Rumah Fadli Zon Bukan Karena Sabotase

Penyebab kebakaran rumah Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di Perumahan Raffles Hills Blok J III No 07, Cibubur, Depok, Jawa Barat, bukan karena sabotase. Penyebabnya dari unsur lain.

“Kesimpulan sementara tidak ada hasil sabotase. Kesimpulan pertama, penyebabnya dari api terbuka, dalam artian rokok, obat nyamuk, lilin, dupa dan lain-lain,” ujar Kadivhumas Mabes Polri Irjen Abubakar Nataprawira di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2009).

Menurut Abubakar, hasil pemeriksaan tim Puslabfor Mabes Polri juga menyebutkan, asal api di ruang utama lantai 2 perumahan elit itu juga tidak mengarah ke korsleting listrik.

“Terkait dengan unsur listrik negatif, tidak ditemukan. Jadi bukan karena korsleting listrik. Bahan kimia juga negatif, bahan bakar minyak juga negatif,” jelas Abubakar.

Kebakaran di rumah sohib Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto itu terjadi pada 21 April lalu. Saat kebakaran terjadi Fadli sedang bepergian bersama istrinya.

Api hanya menghanguskan bagian atas rumah Fadli Zon. Sedangkan bagian lantai dasar tak tersentuh api sedikit pun.

Rumah Fadli Zon Kebakaran, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Rumah Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon terbakar. Api diduga berasal dari ruang utama di lantai 2 rumah mewah tersebut.

Informasi yang dihimpun detikcom di lokasi kejadian, Perumahan Raffles Hills Blok J III No.07, Cibubur, Depok, Jawa Barat, sekitar pukul 15.00 WIB, Selasa (21/4/2009).

“Api menyala di lantai 2 dan langsung membesar. Tapi api bisa dipadamkan setengah jam kemudian oleh sekitar 8 mobil pemadam,” kata saksi mata yang enggan disebutkan namanya.

Saksi tersebut menambahkan, saat kejadian hanya ada 2 anak Fadli Zon dan sejumlah pembantu rumah tangga. Fadli Zon dan istri sedang berada di luar rumah. Namun hanya beberapa waktu kebakaran terjadi, Fadli yang mendapat kabar tentang kejadian itu langsung pulang.

Pantauan detikcom, api hanya menghanguskan bagian atas rumah Fadli Zon. Sedangkan bagian lantai dasar tak tersentuh api sedikit pun. Meski demikian, ruangan tersebut terlihat berantakan karena sejumlah barang sudah diselamatkan saat api berkobar.

Fadli Zon sendiri belum bisa dimintai keterangan mengenai kejadian ini. Sahabat dekat Prabowo Subianto itu terlihat masih sibuk mengecek keadaan rumahnya.

Gerindra Rahasiakan Dana Iklan Prabowo

Iklan Capres Prabowo bertebaran di televisi. Dananya diperoleh dari sponsor dan pengusaha. Namun, jumlahnya masih dikalkulasi.

“Saya belum bisa menghitung angka resminya karena banyak dari sponsor-sponsor. Mereka membuat iklan tetapi tidak pernah laporan ke kami berapa habisnya,” kata Ketua Umum Gerindra Suhardi.

Hal ini disampaikan Suhardi di Media Center Partai Gerindra, Jalan Prapanca Raya nomor 9, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2009).

Selain dari sponsor, kata Suhardi, dana iklan diperoleh dari sumbangan pengusaha. “Yang bisa saya sebutkan namanya Pak Hashim (adik Prabowo), dan Pak Prabowo dan Pak Hangky,” ujarnya.

Menurut dia, Gerindra masih menyusun angka-angka dana kampanye untuk dilaporkan ke KPU.

Amunisinya masih cukup tidak? “Masih cukup,” cetusnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Fadli Zon membantah Gerindra dibesarkan oleh iklan.

“Tetapi riilnya anggota resmi kami 10 juta. Dengan bekal ini, kami percaya diri. Jadi tidak benar anggapan kami partai kecil lalu dibesarkan oleh iklan,” kata Fadli.

Dikatakan dia, Gerindra tidak ingin fokus di Jawa. “Namanya saja sudah Indonesia Raya, jadi kami ingin mendulang suara dari seluruh wilayah Indonesia tetapi tentunya petani dan nelayan. Jadi harapan kami yang kira-kira itu jumlahnya 20 juta,” papar pria berkacamata itu.

Senjata Makan Tuan Buat SBY

Ratusan jenderal TNI Angkatan Darat tiba-tiba ngumpul di Balai Kartini, Jakarta, 2 Februari, kemarin. Mereka adalah 60 jenderal yang masih aktif dan sekitar 200 pensiunan jenderal. Para sesepuh AD ini kemudian mengadakan rapat tertutup selama dua jam.

Ajang silaturahmi para jenderal itu utamanya membahas soal Pemilu 2009. Apalagi belakangan beredar kabar kalau TNI mulai lirak-lirik kepada beberapa capres yang akan maju di Pilpres. Kabar seperti itu juga sempat dilontarkan Presiden SBY di hadapan petinggi TNI/Polri di Istana Negara, Jakarta, Kamis, pekan lalu.

“Saya dengar isu di petinggi TNI AD mengatakan ABS, Asal Bukan capres S. Ada juga petinggi di Polri yang jadi tim sukses capres X. Saya yakin informasi ini tidak benar. Saya yakin informasi ini tidak benar,” begitu kata SBY saat itu.

Isu ABS disebut-sebut sempat mengganggu ketenangan hati SBY. Apalagi yang ia dengar ada perwira TNI yang bakal ikut membantu capres tertentu.

Siapa pelontar isu ABS sebenarnya? Dari penelusuran detikcom muncul dua versi. Pertama, kabar itu merupakan bocoran hasil pembicaraan di internal partai Hanura dan Gerindra.

Sumber detikcom mengatakan, saat bincang-bincang internal yang melibatkan beberapa perwira aktif TNI terucap kata-kata dari petinggi partai, “Kenapa harus SBY?”

Kata-kata itu kemudian bocor keluar hingga sampai ke telinga SBY. “Pertama mendengar kabar itu SBY hanya senyum-senyum saja. Tidak ada wajah gusar di wajahnya,” jelas orang dekat SBY yang enggan disebut namanya.

Nah setelah itu, ujar sumber tersebut, informasi yang diterima SBY itu kemudian dilontarkannya kepada para petinggi TNI/Polri di istana.

Tapi kata Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, soal kalimat “Kenapa Harus SBY” sangat wajar. Sebab partai Gerindra mencalonkan Prabowo sebagai capres. Bukan tokoh yang lain.

“Semangat kami (Gerindra) sangat jelas. Pemimpin Indonesia ke depan seharusnya seorang figur yang punya semangat baru untuk kemajuan Indonesia. Bukan pemimpin bekas atau bekas pemimpin,” tukas Fadli.

Gosip ABS tersebut dianggap Fadli, hanya akal-akalan SBY untuk mendongkrak citra. Kesan yang ingin disampaikan, seolah-olah SBY dikeroyok sejumlah pihak. Dengan demikian SBY bisa mendulang simpati seperti pada Pemilu 2004.

Bukan itu saja, Fadli juga menuding kalau SBY telah melakukan provokasi dengan melontarkan gosip yang tidak jelas asal-usulnya. “Sebagai seorang presiden harusnya SBY mengungkapkan data-data bukan gosip apalagi kabar bohong,” tegas Fadli.

Sementara versi lain yang didapat detikcom terkait asal-usul gerakan ABS, berasal dari beberapa tokoh yang berseberangan dengan SBY. Diantaranya elit PDIP.

Tujuan gerakan tersebut adalah menggalang kelompok-kelompok yang sakit hati dengan SBY. Jargon yang diusung koalisi tidak resmi tersebut adalah capres mendatang asal jangan SBY.

Gerakan tersebut untuk senjata makan tuan bagi SBY. “Saat Pemilu 2004 SBY dan pendukungnya telah mengobarkan semangat Asal Bukan Mega. Sekarang coba kita balik “Asal Bukan SBY,” begitu jelas sumber detikcom yang merupakan kader PDIP.

Target utama gerakan tersebut adalah memecah-belah kekuatan pendukung SBY, terutama di kalangan TNI yang di Pemilu 2004 berada di belakang SBY. Tidak itu saja, kekuatan TNI dianggap begitu strategis karena institusi tersebut yang akan mengatur penyebaran logistik Pemilu dari KPU ke sejumlah daerah.

Sumber tersebut menambahkan, setelah semangat ABS itu menguat dan tercipta koalisi permanen, mereka akan duduk bersama dan menetapkan siapa capres selain SBY. Harapannya, Megawati yang akan muncul sebagai nama capres tersebut.

Namun Ketua DPP PDIP Bidang Hukum dan HAM, Firman Jaya Daeli saat dikonformasi mengaku tidak tahu-menahu gerakan semacam itu. “Kabar dari mana. Itu hanya gosip saja,” ujar Firman.

Ketua Bappilu DPP PDIP Tjahjo Kumolo juga enggan memberi komentar soal isu ABS tersebut. Namun kata Tjahjo, PDIP dalam mengkritik bukan asal bunyi saja melainkan ada data-datanya. Semua berdasarkan data dan janji-jani kampanye pilpres yang lalu. “Janji kampanye adalah utang kepada rakyat dan harus dibayar kepada rakyat,” pungkasnya

Umumkan Cawapres, Gerindra Tak Bermaksud Kecilkan Para Tokoh

Jakarta – Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah mengumumkan nama-nama cawapres Prabowo Subianto. Langkah ini semata-mata untuk menampung
usulan dari DPD-DPD Gerindra dan para kader, bukan upaya mengecilkan nama-nama cawapres yang muncul.

“Kami belum secara resmi mengumumkan cawapres pendamping Pak Prabowo. Itu tak lebih dari usulan daerah yang belum formal. Tujuannya untuk menjaring komunikasi politik, bukan maksud mengecilkan para tokoh itu,” kata Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon Pada detikcom, Senin (2/2/2009).

Menurut orang kepercayaan Prabowo ini, DPP Gerindra belum menghubungi para tokoh yang disebutkan sebagai calon pendamping Prabowo. Karena keputusan cawapres baru diambil setelah pemilu legislatif.

“Kami juga belum menghubungi yang bersangkutan. Karena memang kami belum membahasnya secara khusus. Dalam agenda kita, soal cawapres itu kita putuskan setelah sembilan April,” jelasnya.

Menurut Fadli, memang DPP Gerindra sedang membicarakan sosok pendamping Prabowo yang dianggap mampu mendongkrak perolehan suara pasangan ini. Salah satunya dengan mempertimbangkan asal-usul dan latar belakang dari calon pendamping Prabowo.

“Setiap orang berhak dipilih dan memilih. Sekarang siapa tokoh yang paling banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat? Soal cawapres, tentu kami mempertimbangkan juga soal Jawa dan non jawa, militer dan non militer. Tapi semua itu masih pembicaraan informal,”terangnya.

Apakah pertemuan dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin itu dalam rangka menjajaki koalisi capres cawapres pekan lalu? “Semua langkah-langkah dari Pak Prabowo dalam rangka silaturahmi politik,”pungkas Fadli Zon.

Gerindra telah mengumumkan 17 nama diusulkan untuk mendampingi Prabowo. Mereka adalah Din Syamsuddin, Yuddy Chrisnandi, Sultan HB X, Muhaimin Iskandar, Akbar Tandjung, Puan Maharani, Fadel Muhammad, Hidayat Nurwahid, Eros Djarot, Marwah Daud Ibrahim, Surya Paloh, Sandiaga Uno, Jimly Asshiddiqie, Yenny Wahid, Tifatul Sembiring, dan Sutrisno Bachir.