Profil

Fadli Zon

Fadli Zon, lahir di Jakarta, 1 Juni 1971, seorang budayawan dan politisi. Menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Master of Science (MSc) Development Studies dari The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris. Kini sedang menempuh S3 di Program Studi Sejarah  FIB UI. Kini pengajar di FIB UI.

Fadli Zon dibesarkan di desa Cisarua-Bogor, putera pertama dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya adalah orang Minangkabau dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Pendidikan dasar diselesaikan di Cibeureum, Cisarua, Bogor. Melanjutkan SMP di Gadog, Bogor dan Jakarta. SMA selama dua tahun di SMA Negeri 31, Jakarta Timur. Ia mendapat beasiswa dari AFS (American Field Service) ke San Antonio, Texas, Amerika Serikat dan lulus di sana dengan predikat summa cum laude.

Pernah menjadi anggota MPR RI (1997-1999) dan aktif sebagai asisten Badan Pekerja Panitia Adhoc I yang membuat GBHN.  Pada 1998 ikut mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) dan menjadi salah satu Ketua hingga 2001 (mundur).

Ia menjadi Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) sejak 2008 dan Ketua Badan Komunikasi Partai GERINDRA (sejak 2010).  Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2010-2015, sebelumnya  Ketua DPN HKTI (2004-2010). Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) FIB UI (2010-2013). Ikut mendirikan dan menjadi  Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies sejak 1997. Redaktur dan  Dewan Redaksi majalah sastra Horison sejak 1993. Pemimpin Redaksi Jurnal VISI sejak 1997, Dewan Redaksi Majalah Tani Merdeka sejak 2007. Selain itu pemimpin redaksi Tabloid Gema Indonesia Raya sejak 2011.

Fadli juga anggota Globalise Resistance di London; anggota Association for the Study of Ethnicity and Nationalism (ASEN), LSE, dan Development Studies Institute Alumni Association, LSE. Selain itu ia diangkat sebagai Dewan Pakar Gebu Minang periode 2005-2009 dan beberapa organisasi lain.

Fadli Zon menulis sejumlah buku antara lain Gerakan Etnonasionalis: Bubarnya Imperium Uni Soviet (Sinar Harapan, 2002); The IMF Game: The Role of the IMF in Bringing down the Soeharto Regime (IPS, 2004); Politik Huru Hara Mei 1998 (buku best seller 2004 diterbitkan oleh IPS); Politics of May Riots 1998 (Solstice, 2004), Mimpi-Mimpi Yang Kupelihara: Kumpulan Puisi 1983-1991 (Horison, 2010).

Ia juga menjadi editor beberapa buku antara lain Timor Timur, Indonesia dan Dunia: Mitos dan Kenyataan karya Bilveer Singh (IPS, 1998), Tanjung Priok Berdarah (Gema Insani Press, 1998), Kembalikan Indonesia! Haluan Baru Keluar dari Kemelut Bangsa karya Prabowo Subianto (Sinar Harapan, 2004); Konflik dan Integrasi TNI-AD karya Mayjen TNI Purn. Kivlan Zen (IPS, 2004); Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948 (Komite Waspada Komunisme, 2005); Lakon Politik “Che Guevara Melayu”: Dokumentasi Teror PKI 1955-1960 karya Ridwan Saidi (IPS, 2006); Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif LEKRA/PKI Dkk karya DS Moeljanto dan Taufiq Ismail (IPS, 2008); Setelah Politik Bukan Panglima Sastra: Polemik Hadiah Magsaysay bagi Pramoedya Ananta Toer (IPS, 2009). Selain menjadi editor, Fadli Zon Library (FZL) juga menerbitkan buku antara lain Hardi: Seni & Politik (FZL, 2011); Seni, Uang, Rakyat: Lintasan Pikiran Pelukis Hardi (FZL, 2011); Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia karya Rosihan Anwar (FZL, 2011) dan lain-lain. Tulisan-tulisannya juga dimuat di sejumlah buku bunga rampai, jurnal dan media massa nasional.

Pengalaman jurnalistiknya dimulai dengan menulis sejumlah artikel di majalah remaja seperti Nona dan Hai (1989-1990). Kemudian menjadi wartawan di majalah Suara Hidayatullah dan Harian Terbit (1990-1991). Semasa kuliah mengasuh majalah Gema (1992-1994) milik DHN Angkatan 45, redaktur Horison (1993), redaktur majalah Tajuk (1995-1996) dan lain-lain. Selain di dunia jurnalistik, Fadli Zon juga bekerja sebagai Direktur Eksekutif Center for Policy and Development Studies (CPDS) pada 1995-1997, sebuah lembaga think tank dan penelitian.

Mantan aktivis mahasiswa awal 1990-an ini juga aktif dalam dunia usaha. Kini menjadi Komisaris PT Tidar Kerinci Agung sejak 2009,  (Direktur 2007-2009) bidang kelapa sawit.  Direktur PT Padi Nusantara (sejak 2005). Pernah menjadi Direktur Umum Golden Spike Energy Indonesia Ltd (2002-2005) sebuah perusahaan minyak dan gas swasta; dan sebelumnya Nusantara Energy Ltd (1999-2001).

Fadli Zon adalah seorang budayawan. Penggiat  kebudayaan sejak masih remaja. Mendirikan Fadli Zon Library pada 2008 di kawasan Jakarta Pusat. Koleksi buku mencapai 45.000 buah terutama buku-buku tua Hindia Belanda sejak 1700-an. Selain buku tua dan kuno, juga menyimpan majalah, naskah kuno, dan ribuan lembar koran sejak abad ke-19. Buku tertua adalah Het Amboinsch Kruid-Boek (Herbarium Amboinensis) karya Georgius Everhardus Rumphius terbitan tahun 1747 kemudian Histoire de Sumatra karya William Marsden terbitan 1788 dalam dua volume. Koran tua antara lain Selompret Malajoe (1862), Wazir Indie (1878-1979), Sin Po (1922-1955), Patriot (1946-1947), Berdjoang (1946-1947), Madura Syuu (1943-1945) dan lain-lain.

Fadli Zon Library adalah oase intelektual, sering melaksanakan diskusi rutin tentang sejarah, budaya, ekonomi, politik dan tema-tema yang dianggap penting dan aktual. Menjadi tempat persinggahan tokoh-tokoh intelektual Indonesia dari dari luar negeri.

Beberapa koleksi lain di Fadli Zon Library: (1) Koleksi keris dan tombak dari berbagai kerajaan di Nusantara; (2) Koleksi prangko sejak pra-filateli awal abad 19,  prangko pertama Hindia Belanda (1864) hingga 2011; (3) Koleksi uang logam (coin), medal, dan uang kertas antara lain set coin zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai (Aceh), Banten, Jambi, Palembang, Cheribon hingga VOC, Hindia Belanda dan Republik Indonesia; (4) Koleksi lukisan dan patung dari sejumlah perupa terkemuka Indonesia; (5) Koleksi piringan hitam (long play) dari musisi/penyanyi Indonesia sejak 1930-an hingga 1980-an; (6) Koleksi rokok yang diproduksi di Indonesia; (7) Koleksi tekstil/kain tua dari beberapa daerah;  (8) Koleksi kaca mata para tokoh seperti Bung Hatta, Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Mr. Mohamad Roem, Ruslan Abdulgani, BM Diah, Sumanang, Rosihan Anwar, Taufiq Ismail, Asrul Sani dan lain-lain.

Fadli Zon peduli terhadap pelestarian warisan budaya leluhur. Ia menjadi Ketua Lingkaran Keris Indonesia (Indonesian Keris Circle) yang hendak memajukan Keris Nusantara. Kegiatannya adalah diskusi, pameran dan mencipta keris-keris baru. Koleksi Keris Fadli Zon telah dipamerkan beberapa kali antara lain: Keris for the World 2010 di Galeri Nasional Jakarta (3-8 Juni 2010); Keris Mahakarya Nusantara di Solo (19-21 April 2011); Keris Sumatera di Taman Mini Indonesia Indah  ( 23 Oktober – 4 Desember 2011). Fadli merupakan salah seorang Pembina di organisasi perkerisan nasional SNKI (Sekretariat Nasional Keris Indonesia) periode 2011-2016. Selain itu tercatat sebagai anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Hobi lain sebagai Filatelis, Fadli Zon juga ikut dalam Pameran Filateli Nasional 2010 dengan Pameran Netherland Indie Postal Stationary 1874-1948 di Mall of Indonesia, Jakarta pada 10-14 Desember 2010. Pameran Filateli Tokoh-Tokoh Nasional di Museum Prangko TMII pada 1-7 Oktober 2011. Koleksinya meraih Medal Large Silver.

Fadli Zon mendirikan Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Rumah Budaya ini menjadi salah satu ikon Sumatera Barat untuk kegiatan kebudayaan dan pendidikan. Selain ada perpustakaan, juga koleksi keris Minangkabau, songket, lukisan, lukisan potret para tokoh Minangkabau, fosil dan karya patung. Rumah Budaya ini berada satu kompleks dengan Rumah Puisi Taufiq Ismail. Kegiatan seni tradisi, musik, tari, saluang, baca puisi dan melukis bersama serta pelatihan guru dilaksanakan sebagai bagian kegiatan Rumah Budaya Fadli Zon yang diresmikan 1 Juni 2011 oleh Penyair Taufiq Ismail.

Sejak kecil, Fadli Zon suka membaca, berorganisasi dan menyukai karya tulis. Ia pun memenangkan berbagai kompetisi siswa berprestasi, lomba pidato, baca puisi, tulis puisi, drama, karya tulis, karya ilmiah, matematika. Antara lain, ia pernah menjadi Ketua Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 31 dan juara I mengarang se-DKI.

Semasa kuliah ia aktif di berbagai organisasi intra kampus maupun ekstra kampus antara lain pernah menjadi Ketua Biro Pendidikan Senat Mahasiswa FSUI (1992-1993), Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FSUI (1993), Ketua Komisi Hubungan Luar Senat Mahasiswa UI (1993-1994). Fadli juga berkali-kali memimpin demonstrasi mahasiswa UI dalam isu-isu nasional dan internasional. Ia ikut memimpin jaringan aktivis mahasiswa di Jawa dan menghusung gagasan ”Gerakan Mahasiswa 1990-an”.  Selain mendukung ”parlemen jalanan,” ia juga turut membentuk dan menghidupkan kelompok-kelompok studi di dalam kampus UI era awal 1990-an. Untuk kegiatan budaya, ia bergabung dengan Teater Sastra UI.

Di luar kampus, ia pernah menjadi Sekjen dan Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) (1993-1995), pengurus pusat KNPI (1996-1999), pengurus pusat Gerakan Pemuda Islam (1996-1999), anggota Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) sejak 1996. Dia sempat menjadi Wakil Ketua Yayasan BESTARI, sebuah LSM bidang anak-anak dengan aktivitas utama Rumah Dongeng Indonesia yang ikut menyebarkan dongeng pada anak-anak dan membina kreativitas anak-anak Indonesia (1991-1994). Di FDI (Forum Dialog Indonesia), sebuah forum dialog pemuda dan aktivis membicarakan berbagai perkembangan nasional di bidang ekonomi, politik dan budaya, dia dipercaya sebagai Tim Pelaksana Aktivitas (1994-1996). Selain itu, ia sering tampil sebagai pembicara dalam diskusi, seminar, konferensi dan training-training mahasiswa.

Tahun 1994, penggemar novel-novel Rusia ini terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) I Universitas Indonesia dan Mahasiswa Berprestasi III tingkat Nasional. Menjadi visiting student di departemen politik National University of Singapore tahun 1995 dan memimpin delegasi mahasiswa Indonesia dalam ASEAN Varsities Debate IV (1994) di Malaysia.

Selama menjadi mahasiswa UI ia mendapat kesempatan mengikuti berbagai konferensi dan seminar di luar negeri antara lain menjadi ketua delegasi mahasiswa Indonesia dan panelis The 40th International Student Conference di Jepang (1993); pembicara di Simposium Dinamika Gerakan Mahasiswa Islam Asia Tenggara di Malaysia (1994); ketua delegasi pemuda Indonesia dalam Korea-ASEAN Youth Cooperative Project di Korea Selatan (1994); peserta Saemaul Undong Training di Korea Selatan (1994); observer gencatan senjata Filipina-Moro di Filipina (1995); ketua delegasi Indonesia dalam ASEAN Youth Day Meeting IV di Filipina (1995); pembicara dalam South East Asia University Student Conference di Malaysia (1995); peserta World Friendship Week di Virginia, Amerika Serikat (1995); Delegasi Indonesia dalam Konferensi LSM ke-48 di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York (1995); Ketua Delegasi Indonesia dan pembicara dalam Asia-Pacific Youth Leadership Conference di Taipei, Taiwan (1996); pembicara Seminar National Build-up and Literary Process in South East Asia di Moskow dan St. Petersburg, Rusia (1996); Konferensi ACRP V di Thailand (1996); peserta Hitachi Young Leaders Initiative di Singapura (1997); dan lain-lain.

Tahun 2002, ia mendapat kesempatan belajar di London School of Economics and Political Science (LSE). Banyak pengalaman berharga yang didapatnya terutama mendapat kuliah dari intelektual-intelektual ternama. Fadli langsung dibawah pembimbing Prof. John Harriss, PhD (Director of Development Studies Institute, LSE) dan Prof. Robert Wade, PhD. Ia ikut beberapa organisasi seperti ASEN dan menjadi aktivis di LSE Stop the War Coalition (2002-2003) yang menentang invasi AS ke Irak. Sebagai ahli studi pembangunan, ia sering diundang sebagai pengajar tamu di Universitas Indonesia untuk program S1 dan S2 mata kuliah Ekonomi Politik dan International Development sejak 2005. Ia juga beberapa kali membimbing skripsi mahasiswa antara lain tentang pemikiran Joseph Stiglitz.

Fadli juga sering diundang sebagai narasumber dalam berbagai diskusi, seminar, konferensi dan talkshow di televisi dan radio. Televisi antara lain Metro TV, TV One, SCTV, RCTI, TVRI dan ANTV. Radio antara lain Radio Elshinta. Namun yang cukup rutin adalah diskusi di Soegeng Sarjadi Forum, QTV (2005-2009). Di forum ini, ia berhadapan dengan banyak panelis membahas berbagai tema ekonomi, politik, internasional, sosial, dan budaya.

Aktivitas lain dalam organisasi petani HKTI memberi banyak pelajaran. Problem petani dan pertanian Indonesia ternyata cukup kompleks menyangkut kebijakan yang harus komprehensif dan kepemimpinan yang visioner. Fadli Zon aktif dalam beberapa forum internasional antara lain menjadi anggota Delegasi RI dalam Konferensi tingkat Menteri VI, World Trade Organization (WTO), Hongkong (13-18 Desember 2005). Kunjungan kerja Delegasi HKTI ke Vietnam (2006-2007); mengikuti konferensi ketahanan pangan di Jepang (2006), dan lain-lain. Ia pernah menjadi anggota Dewan Gula (2005-2009), Wakil Ketua Tim Pengawas Pengadaan Beras Bulog (2007), Anggota Oversight Committee Impor Beras (2005 – 2007) dan Wakil Ketua ADIPBI (Asosiasi Distributor dan Pengecer Barang Bersubsidi Indonesia) (2006 – 2009).

Pada 1 Juni 2011, Fadli Zon Library memperoleh tiga rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori: Perpustakaan Pribadi dengan Koleksi Keris terbanyak, Perpustakaan Pribadi dengan Koleksi Koran Tua terbanyak, dan Perpustakaan Pribadi dengan Koleksi Piringan Hitam terbanyak. Ia juga mendapat penghargaan sebagai Pemimpin Pancasila Tahun 2011 dari Yayasan Indone¬sia Satu, di Palangkaraya 11 Juni 2011. Fadli terpilih sebagai Tokoh Muda Inspiratif, Kompas, November 2009. Komunikator Terbaik Pilpres 2009 untuk kategori Tim Kampanye/Tim Sukses dari Strategi Aliansi Komunika, 2009.

Atas aktivitas kebudayaan yang digelutinya, Fadli Zon menerima penghargaan gelar kehormatan Tuanku Muda Pujangga Diraja dari Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau pada 2009. Tokoh lain yang menerima penghargaan ini antara lain Harun Zain, Emil Salim, Des Alwi, Taufik Abdullah, Taufiq Ismail, Januar Muin dan Hasjim Djalal. Ia juga mendapat gelar Kanjeng Pangeran Kusumohadiningrat dari Keraton Surakarta pada Juni 2011. Di kampong nenek moyangnya, di Kabupaten 50 Kota, Fadli diangkat menjadi Datuk Bijo Dirajo Nan Kuning.

 

English