Blog

Gerindra Bulatkan Tekad Hadapi Blok M dan Blok S

Poros Indonesia Raya yang digagas Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) akan dijadikan kekuatan untuk mengimbangi kubu Susilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat dan Megawati Sukarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Hal itu ditegaskan Ketua Gerindra Suhardi saat mengikuti tabur bunga dan upacara penghormatan kepada para pahlawan di depan tugu TMP Kalibata, Jakarta, Jumat (6/2) bersama ratusan kader partai. “Ini (Poros Indonesia Raya) akan menjadi kekuatan alternatif yang dominan,” ujarnya.

Dalam acara yang bertepatan dengan hari ulang tahun pertama partai bernomor urut lima itu, Suhardi mengatakan, pihaknya terus melakukan diskusi terhadap tokoh-tokoh nasional, seperti Akbar Tanjung dan Amien Rais, tentang Indonesia baru, dengan sistem ekonomi baru, demi mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Adapun kader partai berlambang burung garuda tersebut menabur bunga di makam Adam Malik, Sutan Syahrir, Agus Salim, pahlawan revolusi, dan lainnya. Turut hadir dalam acara tersebut Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Fadli Zon, serta para dewan pembina, pengurus DPP, serta perangkat partai lainnya. Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang semula dijadwalkan memimpin tabur bunga, tidak hadir karena berhalangan.

Menurut Fadli, acara tersebut bertujuan untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan menghadapi bangsa penjajah. “Selain itu, acara ini juga mengingatkan para kader Gerindra bahwa apa yang kita lakukan sekarang adalah meneruskan cita-cita mereka,” ujarnya, Jumat (6/2).

Fadli menambahkan, acara tabur bunga ini serentak diadakan di daerah-daerah. Selain tabur bunga, Partai Gerindra juga mengadakan bakti sosial guna memberikan bantuan kepada masyarakat miskin.

Inilah Jawaban Prabowo Soal Tragedi Mei 1998

Kekerasan yang terjadi pada Mei 1998 tak hanya sekedar catatan hitam dalam lembaran sejarah Indonesia, tapi juga luka bagi para korban dan keluarga korban kekerasan. Termasuk masyarakat Tionghoa yang harta bendanya dirampas. Apalagi para perempuan Tionghoa korban pemerkosaan biadab.

Prabowo Subianto yang saat peristiwa tersebut menjabat sebagai Panglima Komando Angkatan Darat memberi penjelasan soal dugaan keterlibatannya.

“Saya memang dituduh melakukan banyak hal termasuk dituduh melakukan kudeta tapi bukti sejarah menunjukan saya tidak melakukan kudeta karena saya percaya pada prinsip-prinsip demokrasi,” kata dia depan masyarakat Tionghoa, termasuk beberapa LSM dan media massa berbahasa Mandarin di Restoran Nelayan, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu 13 Juni 2009.

Kata Prabowo, saat itu menjaga stabilitas jadi fokus utama. “Saat itu saya adalah pejabat dalam suatu pemerintahan, setelah itu ada pergantian rezim. Apa yang oleh satu pemerintahan disebut sebagai penahanan, oleh pemerintahan selanjutnya bisa diartikan sebagai penculikan,” kata dia.

Sebagai Pangkostrad, kata Prabowo, dia mengambil tanggung jawab. “Itu bukan proyek dan suruhan saya,” kata dia. Prabowo lalu mengaku sudah ada rekonsiliasi. “Namun, saya juga minta maaf,” kata dia.

Selain menjawab pertanyaan pengunjung soal peristiwa Mei 1998, Prabowo juga membagi-bagikan buku berjudul ‘Huru-hara Mei 1998’ karya Fadli Zon, yang saat ini menjadi Wakil Ketua Umum Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Kerusuhan terjadi di Indonesia pada 13 Mei – 15 Mei 1998, khususnya di ibu kota Jakarta dan  beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa. Selain itu banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa juga menjadi sasaran amuk massa, terutama di Jakarta dan Surakarta. Juga terdapat puluhan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dalam kerusuhan tersebut.

Pada peringatan 11 tahun peristiwa Mei 1998, sejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM) di kantor Kontras mengadakan ‘May Tribunal’, sebagai representasi pengadilan rakyat. Mereka menuntut Pengadilan HAM ad hoc mengadili pihak-pihak yang bertanggungjawab atas peristiwa itu.

Prabowo Tersenyum soal Duet dengan Sri Sultan

Mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto hanya tersenyum sumringah saat dikonfirmasi tentang poster dirinya berduet dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.  Prabowo sempat tersontak kaget, dan kembali hanya bisa tertawa lebar terkait hal itu.

“Hahahaha…itu  cuma untuk berita headline ya? Hehe,” ujar Prabowo Subianto sambil tertawa terkekeh-kekeh yang ditemu secara khusus oleh Persda Network, Kamis (14/2) usai bertemu dengan petani teladan di kantornya.

Prabowo seakan menghindar ketika dikonfirmasi tentang poster yang beredar di Yogyakarta yang menyandingkan dirinya dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lagi-lagi, Prabowo tertawa lepas. “Hahaha, kita ini sedang berbicara subsidi pupuk. Kok tanya soal 2009 sih. Boleh dong sekali- sekali headline-nya petani,” tukas Prabowo enggan mengometari lebih lanjut.

Dalam pertemuannya dengan para petani unggulan dari lima provinsi, Provinsi Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Provinsi Jambi,  Prabowo mengingatkan kesejahteraan, termasuk kesejahteraan para petani yang tak akan terwujud bila tak bisa merasakan hidup tentram.

Prabowo memberikan jaminan HKTI yang dipimpinnya siap membela para petani. Prabowo juga menyayangkan sikap pemerintahan yang membuka impor di sektor pertanian sebesar-besarnya. Ia kemudian mengimbau kepada para politikus, dan para pimpinan partai untuk lebih peduli dengan nasib para petani.

“Kita menolak impor, bukan karena sok nasionalis. Tapi, para petani kita belum mampu bersaing dengan petani-petani negara maju. Para petani negara lain dibela pemerintahnya, tapi, kita tidak. Menolak impor dengan mempertimbangkan risiko,” sesal Prabowo seraya mengingatkan harga pangan di seluruh dunia makin membumbung tinggi.

Hingga saat ini, iklan Prabowo di beberapa stasiun televisi dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum HKTI masih terus ditayangkan. Prabowo, dalam iklannya itu  mengimbau agar rakyat Indonesia membeli produk-produk bahan makanan dari dalam negeri.

Dalam iklan berdurasi sekitar satu menit, Prabowo digambarkan sedang menyapa para petani. Selain itu, ditampilkan pula gambar kegiatan para petani di Indonesia. Narasi dari iklan tersebut adalah suara dari Prabowo.  Konsep dari iklan “Prabowo dan Petani Indonesia” mirip dengan konsep saat Prabowo berkampanye jelang Pemilu Presiden 2004. Intinya, mengajak rakyat Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan.

Teman dekat Prabowo, Falli Zon yang tak lain  Direktur Eksekutif  Institute for Policy Studies (IPS) dalam perbincangan khusus dengan Persda Network, Rabu (6/2) malam lalu, tidak menampik bila dalam pertarungan Pilpres 2009 nanti, Prabowo ikut maju. Kalau untuk maju (Pilpres 2009), masih melihat peluang ke depan. Yang jelas, Prabowo sampai saat ini sebagai dewan penasihat Golkar. Tentunya, masih melihat mekanismenya seperti apa nanti karena sekarang ini belum jelas. Tapi, kalau merupakan sebuah panggilan bagi kepentingan nasional kan, pasti siapa pun harus mau memperbaiki bangsa ini.  Sudah pastilah, yang jadi pertimbangan utamanya adalah dari Partai Golkar,” jelasnya.

“Secara politik kita tidak tahu apakah Mas Prabowo tetap maju kalau ada capres dari Partai Golkar juga. Kalau melihat dari pengalaman-pengalaman yang lalu, selalu ada yang namanya peluang. Sehingga melihat peluang itu ke depan dan belum bisa diramal sekarang begitu saja. Politik ke depan, tentu akan berjalan secara dinamis,” lanjut Fadli Zon lagi.

Mega-Prabowo Percaya Diri Lawan SBY-Boediono

Tim sukses pasangan capres-cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto sangat yakin dapat bertarung dan sukses di Pemilu Presiden. Meskipun salah satu rivalnya adalah pasangan incumbent atau yang masih menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono.

“Kami sangat optimistis,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, yang hadir dalam pertemuan tim pemenangan pemilu PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, di Kantor Badan Pemenangan Pemilu PDIP, di Jalan Cut Dik Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 18 Mei 2009.

PDI Perjuangan dan Partai Gerindra meyakini bahwa masih banyak masyarakat yang menginginkan adanya perubahan. Maka itu, tim sukses Mega-Prabowo sudah mempersiapkan segala hal dalam persaingan melawan dua kandidat lainnya, SBY-Boediono dan JK-Wiranto. “Karena masyarakat menginginkan perubahan,” ujar Fadli.

Dalam rapat itu tampak hadir beberapa petinggi dari dua partai. Fungsionaris PDI Perjuangan yang hadir dalam rapat antara lain, Panda Nababan, Gayus Lumbuun, Ganjar Pranowo, dan Arif Budimanta.

Sementara dari Partai Gerindra hadir Ketua Umum, Suhardi, Wakil Ketua Umum, Fadli Zon, anggota Dewan Pembina Gerindra, Hasim Djojohadikusumo, Ketua DPP Partai Gerindra, Halida Hatta, dan beberapa fungsionaris lainnya.

Data Iklan Demokrat Meragukan

Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menuding data kemiskinan yang ditampilkan Partai Demokrat dalam iklan politiknya tak akuntabel. Hanura dan Gerindra mengatakan, data kemiskinan Demokrat yang didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tak sesuai dengan data Bank Dunia yang lebih berlaku global.

“Masalahnya data incumbent bisa digoreng,” ujar Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dalam diskusi publik bertajuk ‘Dengan Iklan Politik Menuju Kontrak Politik’ di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta, Rabu (19/11).

Fadli menambahkan bahwa dalam iklan poliitik harus ada akuntabilitas, termasuk soal data. Masyarakat tentunya akan lebih memilih iklan mana yang mewakili dirinya pada saat ini.

Sementara itu, Ketua DPP Hanura Indro Tjahyono mengatakan Hanura sudah menyanggah data kemiskinan yang ditampilkan Demokrat melalui iklan politik juga. “Ini yang coba kita advokasi. Kalau politikus sudah salah melihat angka saya kira kebijakannya akan salah,” ujar Indro.

Ketua Departemen Politik Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, tanggung jawab etis seharusnya berbasis pada data. Menurut Anas, data juga sangat penting untuk menyanggah iklan politik oposisi.

“Silahkan parpol lain kalau mau debat atau kritik. Itu hak untuk semua partai untuk ambil jalannya sendiri. Kalau kita mau kritik ya dengan data juga supaya publik tahu mana yang benar. Itu jadi sehat dan menyehatkan bukan sindir-menyindir,” ujar Anas.

Kasus Munir Buat “Jualan” Pemilu 2009

Kritikan pedas langsung dilontarkan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Fadli Zon. Ia menuding, sikap ngotot Jaksa Agung Hendarman Supandji yang  akan melakukan kasasi terhadap putusan bebas Muchdi Pr tak lain sebagai lahan ‘jualan’ Presiden SBY untuk menaikkan popularitasnya jelang perhelatan Pemilu 2009. Kasus Munir, dianggap Fadli Zon juga sebagai alat untuk menutupi kelemahan pemerintahan SBY-JK yang tidak mampu memberikan perekonomian yang lebih baik kepada rakyatnya.

“Saya mendapatkan banyak masukan dari para ahli hukum, bahwa seseorang yang sudah divonis bebas, maka tidak bisa dilakukan kasasi lagi. Pak Muchdi kan divonis bebas murni, jadi akan sulit untuk dilakukan kasasi. Bagi kami, putusan terhadap pak Muchdi sudah berdasarkan fakta-fakta hukum dipersidangan yang ada dan cukup adil. Jadi, sikap Jaksa Agung yang ngotot ingin kasasi, tak akan mungkin berhasil,” kata Fadli Zon dalam perbincangan khusus dengan Persda Network, Senin (5/1).

“Secara politik, kasus Munir ini memang terkesan untuk jualan dalam menghadapi Pemilu nanti. Kasus ini, terus dimainkan sengaja, untuk menutupi kegagalan pemerintahan ini dalam memperbaiki ekonomi, membuat rakyatnya bisa hidup baik. Seolah-olah, pemerintahan ini berhasil menegakkan hukum, padahal banyak masalah HAM yang sampai saat ini tak juga terselesaikan,” tandas Fadli Zon.

Fadli Zon kemudian memberi saran kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji  untuk tidak menggunakan uang negara bila tetap ingin mengajukan kasasi atas vonis bebas Muchdi Pr. Fadli beralasan, uang negara akan terkuras hanya untuk mengajukan kasasi yang belum tentu akan berhasil.

“Lebih baik Jaksa Agung menggunakan dana pribadi saja untuk mengajukan kasasi. Para pakar hukum yang sudah saya mintai pendapatnya, masalah ini sangat sulit untuk bisa memenangkan kasasi. Jadi, rencana kasasi ini lebih pada nuansa politisnya, atau politik pencitraan saja. Apalagi Jaksa Agung bertanggung jawab kepada presiden. Harusnya, putusan ini dihargai. Kecuali kalau Jaksa Agung pakai uang pribadi, bolehlah,” cetus Fadli Zon.

Fadli meyakini, rencana Jaksa Agung untuk melakukan kasasi, hanyalah didasari adanya tekanan dari pihak asing yang secara jelas. Apalagi, kata Fadli sebelumnya juga terungkap adanya tekanan dari parlemen Amerika Serikat terkait kasus ini.

“Bagi saya,  pemerintah telah melakukan diskriminasi terhadap kasus-kasus hukum yang lain. Kalau kita lihat, kasus HAM lain, misalnya kasus Trisakti, kasus kerusuhan Mei, sampai sekarang tak jelas penyelesaiannya. Terkesan, pemerintah hanya melayani permintaan salah satu LSM,” kata Fadli.

“Pak Muchdi punya hak untuk mendapatkan kepastian hukum, tidak dipermainkan oleh berbagai manuver politik,  apalagi kasus ini dijadikan sebagai bagian dari politik pencitraan jelang Pemilu,” tegasnya.

MegaPro Tiba Belakangan, Namun Paling Meriah

Diantara para pasangan kandidat presiden dan wakil presiden, kedatangan pasangan Megawati Sukarnoputri – Prabowo (MegaPro) ke gedung Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) tampak paling meriah, Sabtu pagi 30 Mei 2009. MegaPro disertai para buruh, tani, pemulung, dan aktivis partai.

Dari kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, MegaPro tiba di KPU paling akhir ketimbang pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto. Mereka berkumpul untuk menyaksikan pengundian nomor urut pasangan kandidat presiden dan wakil presiden pada pemilihan umum Juli mendatang.

Namun kedatangan MegaPro, yang tiba dengan bus carter, sangat meriah. Di belakang mereka juga diiringi sejumlah bus yang mengangkut para buruh, tani, pemulung, dan aktivis partai. Mereka pun ditemani iring-iringan motor yang membawa bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sedangkan para fungsionaris partai PDIP dan Gerindra yang mengiringi MegaPro diantaranya Gayus Lumbuun, Halida Hatta, Fadli Zon, Guruh Soekarnoputra, Tjahjo Kumolo, dan lain-lain. Tampak pula Mokhtar Pakpahan dari Partai Buruh.

Gayus menyatakan seusai dari KPU belum tahu apa agenda Megawati selanjutnya karena kemarin malam baru tiba dari Solo, jadi perlu waktu beristirahat. “Mengenai kampanye MegaPro baru hari akan dibahas roadshow nya seperti apa,” kata Gayus.

Fadli Zon dan Qodari Datangi Rumah Mega

Calon presiden dari PDIP dan Gerindra, Megawati Soekarnoputri sedang melakukan pengambilan gambar alias syuting di Pasar Blok A, Jakarta Selatan. Tetapi, petinggi Gerindra justru mendatangi  kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat.

Pantauan VIVAnews satu per satu tamu berdatangan ke kediaman pribadi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 25 Mei 2009.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, tiba sekitar pukul 11.40 WIB. Anggota Tim Kampanye Megawati-Prabowo ini tiba menggunakan Toyota Alphard dengan nomor polisi B 2779 FZ.

Setelah Fadli Zon, giliran Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari tiba di kediaman Megawati. Qodari datang dengan menaiki mobil Honda CRV berwarna hitam.

Tidak ada keterangan apapun yang disampaikan Fadli Zon dan Qodari. Yang pasti, kegiatan Megawati dan Prabowo hari ini adalah pengambilan gambar untuk iklan capres-cawapres Mega-Prabowo di televisi.

Siapa Eksekutif di Balik Bisnis Prabowo

Perkembangnya bisnis calon Wakil Presiden Prabowo Subianto tidak lepas dari para eksekutif yang terlibat di grup bisnis Nusantara Energy. Mereka pula yang membawa nilai aset grup bisnis putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo melesat hingga US$ 1 miliar.

Tampilnya Prabowo sebagai calon wakil presiden menarik perhatian berbagai kalangan. Apalagi, Prabowo dikenal sebagai calon paling kaya dengan total kekayaan yang disampaikan kepada Komisi Pemberantas Korupsi mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun.

Kepada VIVAnews, seorang kolega Prabowo menyebutkan sejumlah eksekutif yang menangani kerajaan bisnis Prabowo. Tentu saja selain adiknya, Hashim Djojohadikusumo, beberapa nama lain dikenal berperan besar dalam mengoperasikan bisnis Prabowo. Mereka adalah Widjono Hardjanto, Bambang Atmadja, Johan Teguh Sugianto dan Fadli Zon.

Prabowo banting setir terjun ke dunia bisnis setelah dipaksa nonaktif dari militer. Pulang dari Yordania, pada November 2001, Prabowo mendirikan Nusantara Energy bersama Johan Teguh Sugianto dan Widjono Hardjanto.

Grup bisnis ini kemudian berkembang pesat mulai dari kehutanan, kertas, perkebunan, tambang batu bara hingga perikanan. Prabowo mengendalikan puluhan perusahaannya tersebut dari kantor pusat di lantai 10, Menara Bidakara, Jakarta.

Lantas, siapa saja sesungguhnya para eksekutif yang berperan besar di balik bisnis Prabowo?

Pertama adalah Hashim Djojohadikusumo. Dia adalah adik kandung Prabowo yang dulu pernah berjaya dengan bendera Grup Tirtamas. Dulu dia dikenal sebagai seorang bankir yang memiliki sejumlah bank, seperti Bank Pelita, Bank Papan Sejahtera, Bank Istismarat. Hashim juga mantan pengendali perusahaan petrokimia besar, yakni Tuban Petrochemical.

Sekarang, Hashim dikenal ikut berperan di Nusantara Energy yang bergerak di bisnis migas. Nusantara Energy juga menguasai tambang-tambang batu bara, serta perkebunan kelapa sawit.

Widjono Hardjanto adalah seorang kolega yang bersama-sama dengan Prabowo mendirikan Nusantara Energy. Widjono sekarang memegang sejumlah jabatan di perusahaan Prabowo, salah satunya sebagai Komisaris Utama PT Kertas Nusantara, pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara.

Bambang Atmadja adalah seorang eksekutif yang sudah 38 tahun malang melintang di berbagai sektor bisnis. Seorang akuntan jebolan FE UI ini pernah bekerja di perbankan, minuman, distribusi film, konstruksi, periklanan, semen, petrokimia, rokok, batu bara, lembaga investasi, pengembang, kertas serta kehutanan.

Dia sekarang menjabat sebagai Presiden Direktur dan CEO PT Kertas Nusantara, Direktur International Timber Corporation Indonesia, dan Komisaris PT Polytama Propindo. Dia juga menjadi pemilik dan direksi atau komisaris sejumlah perusahaan, seperti PT Anugerah Utama Multifinance, PT Berkat Banua Inti, Westlink Property Development Ltd dan Rivergate Development Pty Ltd di Perth, Australia.

Fadli Zon dikenal cukup lama sebagai tangan kanan Prabowo. Alumnus jebolan Sastra Rusia UI ini sekarang menjabat sebagai direktur di sejumlah perusahaan milik Prabowo. Di antaranya adalah Direktur PT Tidar Kerinci Agung, Komisaris Utama PT Tambang Sungai Suir, Direktur PT Padi Nusantara, serta Komisaris PT Susu Nusantara.

Deklarasi Mega-Prabowo di Bantar Gebang Sederhana

Pasangan Mega-Prabowo sedang mempersiapkan deklarasi mereka pada 24 Mei mendatang di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengaku biaya yang dikeluarkan untuk deklarasi tersebut sangat sederhana karena banyak dibantu oleh simpatisan dan kader-kader partai.

“Saya kira anggarannya sederhana saja. Ini dikerjakan gotong royong, setiap orang membantu, kader juga bantu jadi nggak ada biaya seperti yang diberitakan media massa,” ujarnya usai diskusi bertajuk ‘Boediono Operator Neolib atau IMF di Indonesia?’  di Gedung YTKI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/5/2009).

Ketika ditanya mengenai besar anggaran yang dikeluarkan untuk kampanye Mega-Prabowo yang disebut-sebut menghabiskan dana Rp 15 miliar Fadli langsung membantahnya.

“Wah kata siapa? Kalau Rp 15 M itu paling untuk 1 atau 2 caleg mungkin. Itu kan ada bidang yang mengatur, menyangkut soal biaya, ada bendahara yang menyusun itu,” kata Fadli.

Fadli mengatakan bukan soal berapa biaya yang dikeluarkan. Tapi semangat mendukung dan memenangkan pasangan Mega-Prabowo.

“Tidak perlu pakai prosentase. Kita pakai anggaran gotong royong, dari PDIP, Gerindra, caleg-caleg, dan masyakarat yang mendukung visi misi Mega-Prabowo,” tuturnya.

Pada saat kampanye, Fadli menjelaskan tidak akan melakukan kampanye yang jor-joran karena melihat antusiasme masyarakat terhadap calon-calon presiden yang sudah tinggi.

“Kita bukan jor-joran, kita pasangan akhir deklarasi, tapi tentunya persiapan sudah dimulai. Antusiasme masyarakat sudah tinggi semua sudah dipersiapakan oleh masing-masing tim kandidat calon,” tandasnya.

Mengenai strategi pemenangan, tim kampanye tentu sudah banyak mempersiapkan masak-masak. Karena ia mengaku pasangan Mega-Prabowo ingin membentuk imej yang pro ekonomi rakyat.

“Kita terus mendukung pencitraan atau imej yang pro rakyat. Kita juga menggalang kekuatan dari Ormas, dan masyarakat luas,” katanya.