Blog

Ideologi Komunis Sudah Tidak Relevan, Sudah Mati

Ideologi Komunis Sudah Tidak Relevan, Sudah Mati

Ideologi Komunis Sudah Tidak Relevan, Sudah Mati
Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon menilai polemik mengenai Partai Komunis Indonesia akhir-akhir ini berawal dari pemerintah.
Hal itu ditandai dengan simposium yang digelar Lemhanas mengenai tragedi 1965 di Hotel Aryaduta beberapa waktu lalu.

“‎Yang buat kekisruhan dari awal pemerintah. Lemhanas buat simposium yang tidak berimbang,” kata Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Maka Wakil Ketua Umum Gerindra ‎itu tidak heran dengan digelarnya simposium tandingan untuk membahas tragedi 1965. Menurutnya, simposium terdahulu tidak imbang dalam menghadirkan para korban 1965.

“Jadi semakin banyak simposium semakin bagus. Ideologi komunis sudah tidak relevan, itu sudah mati,” tuturnya.

Masih kata Fadli, rekonsiliasi korban 1965 sebenarnya sudah selesai di tingkat masyarakat. Saat ini menurutnya sudah tidak ada diskriminasi terhadap keluarga korban 1965 dan mengalir di masyarakat.

“‎Dulu memang ada istilah eks Tapol dan kini sudah tidak ada lagi. Rekonsiliasi yang sudah berjalan biarkan berlalu,” tandasnya.

 

Sumber

Jokowi Perlu Berpikir Jangka Pendek, Rakyat Hidupnya Makin Susah

Jokowi Perlu Berpikir Jangka Pendek, Rakyat Hidupnya Makin Susah

Jokowi Perlu Berpikir Jangka Pendek, Rakyat Hidupnya Makin Susah

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik harga kebutuhan pokok yang naik menjelang puasa dan Lebaran.

Menurut dia, kenaikan harga ini terjadi karena pemerintahan Joko Widodo terlalu fokus berpikir jangka panjang dengan pembangunan infrastruktur, tetapi lupa kebutuhan rakyat yang mendasar.

“Pak Jokowi boleh orientasi dengan infrastruktur, tapi infrastruktur tak ada hubungannya dengan perut rakyat. Jadi itu jangka menengah dan jangka panjang. Perlu juga pikirkan jangka pendek. Sebab, rakyat hidupnya makin susah,” kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Fadli menegaskan, kehidupan rakyat yang makin susah ini bukan isu semata. Sebab, dia dan anggota DPR lainnya mendapatkan keluhan langsung dari masyarakat setiap kali turun ke daerah pemilihan.

“Hampir semua menyebut hidup sekarang makin susah. Harga barang sulit terjangkau,” ucap Fadli.

Politisi Partai Gerindra ini menyindir sikap Jokowi yang dianggapnya sudah mulai menggalang kekuatan untuk Pilpres 2019 dengan merangkul Partai Golkar.

Seharusnya, kata dia, Jokowi fokus saja terlebih dahulu membenahi kesejahteraan rakyat dan memenuhi janji kampanyenya pada Pilpres 2014 lalu.

“Perlu diingat, Pak Jokowi banyak memberi janji-janji untuk rakyat. Fokus saja sekarang yang dijanjikan direalisasikan,” ucap Fadli.

 

Sumber

Fadli Zon Dapat Empat Rekor MURI di Hari Ulang Tahun

Fadli Zon Dapat Empat Rekor MURI di Hari Ulang Tahun

Fadli Zon Dapat Empat Rekor MURI di Hari Ulang Tahun

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mendapat rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-45, Rabu (1/6). Tak tanggung-tanggung, rekor yang didapat yakni empat macam.

Pertama, Fadli Zon tercatat sebagai Kolektor Rokok dan Kemasan Rokok Terbanyak di Indonesia. Koleksinya yang mencapai enam ribuan mengantarkannya sebagai orang Indonesia dengan koleksi rokok dan kemasan terbanyak.

Rekor tersebut diakui langsung oleh pendiri MURI Jaya Suprana. “Fadli Zon ini pintar. Dia membeli semua koleksi rokok orang paling banyak, dan sekarang dia yang pegang rekor itu,” kata Jaya Suprana di Red Top Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (1/6) malam.

“Sekarang koleksi rokok dan kemasan rokok saya sudah mencapai tujuh ribu,” timpal Fadli Zon.

Jaya Suprana kemudian meminta pendiri partai Gerindra Prabowo Subianto yang turut hadir dalam acara itu, untuk menyerahkan rekor MURI bagi Fadli Zon.

Rekor kedua yang diberikan MURI kepada Fadli Zon yakni Orang Pertama Jadi PLT Ketua DPR. Selanjutnya ada dua rekor lagi yaitu Kolektor dan Penggagas Wayang Minangkabau serta Kolektor Wayang Golek Terbesar.

Menurut Jaya Suprana, ini bukan rekor MURI pertama bagi Fadli Zon. Politikus Partai Gerindra itu sebelumnya juga sudah punya tujuh rekor sebagai kolektor.

 

Sumber

Fadli Zon Luncurkan Buku Perjalanan Kehidupan di Ultah ke-45

Fadli Zon Luncurkan Buku Perjalanan Kehidupan di Ultah ke-45

Fadli Zon Luncurkan Buku Perjalanan Kehidupan di Ultah ke-45

Bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-45, yang diperingati setiap 1 Juni,Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon meluncurkan buku berjudul Menyusuri Lorong Waktu. Acara ultah dan peluncuran buku ini berlangsung di Red Top Hotel, Jakarta, dengan kehangatan, dan dihadiri oleh segenap kolega Fadli.

Fadli mengatakan, buku ini adalah catatan hidupnya selama 45 tahun. Buku setebal lebih dari 500 halaman ini juga menceritakan seorang Fadli ketika menjalani masa sekolah, hingga ke perjalanan politiknya.

“Menyusuri perjalanan hidup ini, saya mengalami banyak jatuh bangun. Saya mensyukuri hidup. Hidup adalah hadiah. Hidup itu ya hari, sekarang. Setiap kita menarik nafas, harus kita syukuri. Kita tidak akan pernah tahu kapan dipanggil oleh-Nya,” kata Fadli.

Politisi F-Gerindra ini menambahkan, buku ini merupakan catatan perjalanan, bukan buku memoar seperti orang-orang lain. Ia mengakui, buku ini juga terinspirasi dari kejadian kebakaran yang menimpa dirinya pada tahun 2009 lalu, yang menyebabkan banyak buku dan jurnal miliknya terbakar. Sehingga ia merasa perlu membuat catatan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku.

“Buku ini persembahkan kepada ibu saya, yang telah melahirkan saya 45 tahun yang lalu. Buku ini juga sebagai pertanggungjawaban hidup saya selama ini kepada orangtua saya. Ya mudah-mudahan hidup saya selama 45 tahun ini bermanfaat, dengan banyak cobaan dan tantangan,” imbuh Fadli.
Dalam acara ini, politisi asal dapil Jawa Barat ini juga mendapat kejutan dari kehadiran guru kelas 1 Sekolah Dasar, Ibu Mujinem, saat Fadli bersekolah di SDN Cibereum, Bogor, Jawa Barat. Ibu Mujinem pun menceritakan kisahnya ketika mengajar Fadli.

“Fadli itu seorang anak yang dari kelas 1 sudah pandai. Dari kelas 1 sampai 6 itu selalu juara umum. Anaknya pendiam. Namun sudah ada bibit menjadi orang sukses dan pintar. Saya senang mendengar anak didik saya sukses,” katanya.

Sesaat sebelum peluncuran buku, dilaksanakan potong tumpeng, sebagai rasa syukur Fadli yang telah menginjak usia ke-45. Potongan tumpeng pertama diberikan ibundanya, Ibu Ellyda Yatim, dan berikutnya kepada Ibu Mujinem.

Sejumlah kolega pun turut hadir dalam acara ini, diantaranya Ketua DPR RI Ade Komarudin, Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan dan Agus Hermanto, Ketua BKSAP DPR Nurhayati Ali Assegaf, Ketua Komisi VII Gus Irawan Pasaribu, Wakil Ketua BURT Novita Wijayanti, hingga Wakil Ketua Komisi II Ahmad Riza Patria, serta Pimpinan dan angota AKD dari Fraksi Gerindra.
Selain itu, ada juga Ketua DPD RI Irman Gusman, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, hingga bakal calon Gubernur DKI Jakarta Ahmad Dhani dan Sandiaga Uno.

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan Shafa Sabilla Fadli, anak pertama Fadli dan Katherine Grace, yang membawakan beberapa lagu. Kemudian peluncuran CD, musikalisasi puisi Fadli Zon “Pasir Putih” oleh Ari Malibu, hingga pembacaan puisi oleh Taufik Ismail berjudul, ‘Perang ini Harus Kita Menangkan’. Dalam kesempatan ini, Fadli juga mendapatkan beberapa rekor MURI, yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum MURI Jaya Suprana. (sf) Foto: Kresno, Jayadi, Arief, Hamdis

 

Sumber

Rilis Buku, Fadli Zon Persembahkan Untuk Sang Ibu

Rilis Buku, Fadli Zon Persembahkan Untuk Sang Ibu

Rilis Buku, Fadli Zon Persembahkan Untuk Sang Ibu

Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-45, Wakil Ketua DPR Fadli Zon resmi meluncurkan buku biografi pertamanya. Buku tersebut diberi judul Menyusuri Lorong Waktu.

“Alhamdulillah akhirnya merilis buku. Buku ini saya persembahkan untuk ibu saya yang sudah melahirkan dan mengasuh saya,” kata Fadli Zon saat peluncuran buku di Red Top Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (1/6) malam.

Buku setebal 522 halaman ini berisi perjalanan hidup politikus berdarah Minangkabau itu secara garis besar. Mulai dari lahir hingga berusia 45 tahun. Di sana diceritakan perjuangan Fadli Zon dari sekolah dasar hingga menjadi negarawan kenamaan.

Semua lengkap dengan berbagai lorong kehidupan, seperti seni budaya, dunia intelektual, dunia usaha, jurnalistik, dan dunia politik.

“Saya menulis buku ini termasuk cepat. Ini bukan memoar, tapi cara saya merayakan hidup saya yang 45 tahun,” ujarnya.

“Di dalamnya juga bukan menyampaikan apa yang saya raih, tapi bagaimana memperjuangkan kedepannya,” sambung politikus Partai Gerindra ini.

Dalam peluncuran buku Menyusuri Lorong Waktu malam ini, turut hadir pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua DPR Ade Komarudin, Irman Gusman, Ahmad Dhani, dan tamu penting lainnya.

 

Sumber

Fadli Zon luncurkan buku “Menyusuri Lorong Waktu”

Fadli Zon luncurkan buku “Menyusuri Lorong Waktu”

Fadli Zon Luncurkan Buku Menyusuri Lorong Waktu

Wakil Ketua DPR Fadli Zon meluncurkan buku bertajuk “Menyusuri Lorong Waktu”, berisi perjalanan hidupnya yang diluncurkan bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-45 tahun.

“Buku ini berisi perjalanan hidup saya secara garis besar hingga usia 45 tahun,” katanya dalam perayaan hari ulang tahunnya di Jakarta, Rabu.

Fadli mengatakan di usianya ke-45, dirinya memasuki berbagai lorong kehidupan, seperti seni budaya, dunia intelektual, dunia usaha, jurnalistik, dan dunia politik.

Menurut dia, dirinya tidak ingin menjadi manusia monodimensi yang monoton, namun ingin menjadi manusia multidimensi yang berwarna dengan segala kontroversinya.

“Tidak mungkin semua orang suka terhadap diri kita, karena selalu ada pro dan kontra,” ujarnya.

Fadli menyadari polemik dan kontroversi kadang tidak bisa dihindari ketika dirinya mengambil sikap atau keputusan.

Menurut dia, itu adalah energi hidup, yaitu dinamika pasti terjadi apalagi jika kita berjuang di tengah masyarakat.

“Cita-cita saya memiliki perpustakaan dan rumah budaya, Alhamdulillah sudah ada. Passion saya di bidang kebudayaan sehingga politik sekadar tugas,” katanya.

Dia mengatakan, dirinya di usia ke-45, menjalani hidup mengalir saja sehingga tidak pernah “ngoyo”, namun berbuat yang terbaik.

Dalam acara peluncuran buku itu dihadiri beberapa tokoh nasional dan partai politik, antara lain Ketua DPR Ade Komarudin, Wakil Ketua DPR Agus Hermanto, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan, Ketua DPD Irman Gusman, Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad.

Selain itu juga dihadiri Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani dan Ketua Fraksi Hanura di DPR Nurdin Tampubolon.

 

Sumber

Ulang tahun Fadli Zon, sederhana penuh kejutan

Ulang tahun Fadli Zon, sederhana penuh kejutan

Ulang tahun Fadli Zon, sederhana penuh kejutan

Ulang tahun ke-45 Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, pada 1 Juni, dirayakan dengan syukuran sederhana di ruang kerjanya di lantai 3 Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.

Turut hadir pada acara tersebut sang istri Katharine Grace, dan dua putrinya Shafa Sabila Fadli dan Zara Saladina Fadli serta rekan-rekan dan staf DPR.

“Pagi tadi (1/6/16). Saat ngantor, saya mendapat kejutan dari para staff dan sekretariat DPR,” kata Fadli dalam twitter-nya.

Salah satu kejutan yang diberikan adalah kedatangan guru Fadli saat di kelas 1 dan 2 SD. “Ibu Mujinen yang mengajarkan baca tulis kepada saya. Mengajarkan  ‘Ini Budi’, ‘Ini Wati,” katanya.

Tak pelak Fadli pun menyerahkan potongan tumpeng HUT ultah kepada Ibu Mujinen, karena dinilai telah memberikan ilmu yang tidak terkira.

Kejutan lainnya hadirnya PM Toh, pedongeng asal Aceh. Pria bernama asli Agus Nur Amal ini membawakan kisah hidup Wakil Ketua Umum Partai Gerindara ini dengan rasa humor.

Tak ketinggalan putri pertamanya, Shafa menghadiahkan sebuah lagu untuk sang ayahanda.

“Acara ini lebih kepada rasa bersyukur kepada ibu saya yang melahirkan saya 45 tahun lalu. Saya lahir 1 Juni bertepatan dengan lahirnya Pancasila,” kata Fadli.

Sementara itu nanti malam Fadli akan meluncurkan buku “Fadli Zon, Menyusuri Lorong Waktu” serta peluncurkan Musikal Puisi Fadli Zon “Pasir Putih”, di kawasan Pacenongan, Gambir, Jakarta Pusat.

 

Sumber

Ultah ke-45, Fadli Zon Kedatangan Tamu Istimewa

Ultah ke-45, Fadli Zon Kedatangan Tamu Istimewa

Ultah ke-45, Fadli Zon Kedatangan Tamu Istimewa

Tepat pada Rabu 1 Juni 2016, Wakil Ketua DPR Fadli Zon genap berusia 45 tahun. Dalam syukuran sederhana di Ruang Kerjanya Gedung Nusantara III, Fadli Zon mendapatkan kejutan dengan kehadiran guru sekolah dasarnya, yaitu Ibu Mujinem yang kini tingaal di Yogyakarta.

“Ibu Mujinem merupakan guru saya ketika di kelas 1 dan 2 sekolah dasar Cibeureum, Bogor, yang mengajarkan membaca,” ungkapnya.Kebahagiaan Fadli semakin lengkap dengan hadiah spesial dari putri sulungnya Shafa Sabila Fadli yang membawakan sebuah lagu untuk sang ayah tercinta. Istri dan dua anaknya turut hadir mendampingi Fadli Zon merayakan hari bahagianya termasuk Sekjen DPR dan pejabat Setjen lainnya.

“Sebetulnya saya tidak merayakan untuk saya, tapi merayakan dan mensyukuri ibu saya yang melahirkan saya 45 tahun lalu, karena sudah banyak perjalanan hidup yang harus saya pertanggungjawabkan,” ceritanya.

Bertepatan dengan pertambahan usia, Fadli Zon akan meluncurkan sebuah buku. Buku tersebut berisikan perjalanan hidup Fadli dari kecil hingga menjadi pejabat negara.

“Sebagai catatan perjalanan dalam sebuah buku yang akan diluncurkan nanti malam. Ini menjadi sebuah anugerah mencapai usia 45 tahun. Saya syukuri,” lanjut Polistisi Gerindra ini.

Rangkaian acara sukuran ini juga diwarnai penampilan PM Toh seorang pendongeng beken dari Aceh yang membawakan riwayat hidup Fadli dengan gaya yang kocak. Sebelum pemotongan tumpeng, seluruh keluarga, kerabat dan staf memanjatkan doa sebagai ucapan syukur yang dipimpin Kyai Rahmat dari Pesantren Yapida, Bogor.

Di usianya ke-45, Fadli berkomitmen untuk menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat yaitu mengemban dan memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia.

” Di mana pun kita, termasuk saya yang mengemban sebagai Pimpinan DPR, akan berusaha menjalankan tugas semaksimal mungkin. Menjalankan tugas dan amanah ini dengan bertanggung jawab sesuai dengan apa yang menjadi aspirasi rakyat,” tutupnya.

 

Sumber

Fadli Zon Tuang Napak Tilas Hidupnya ke Dalam Buku

Fadli Zon Tuang Napak Tilas Hidupnya ke Dalam Buku

Fadli Zon Tuang Napak Tilas Hidupnya ke Dalam Buku

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon merayakan ulang tahun ke-45 dengan menggelar peluncuran buku berjudul Fadli Zon Menyusuri Lorong Waktu.

Sesuai judulnya, buku tersebut berisi cuplikan kisah perjalanan hidupnya sejak kanak-kanak hingga hari ini.

Fadli mengatakan, ‎buku tersebut merupakan bentuk ungkapan terima kasih kepada ibunda, Ellyda Yatim. Di mata Fadli, ibu merupakan sosok yang sangat berharga dalam hidupnya.

“Pada peluncuran buku saya, saya hadiahkan buku ini buat ibu saya,” kata Fadli, ketika ditemui di Hotel Red Top, Jakarta Pusat, Rabu (1/6/2016).

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri oleh tamu kehormatan dari berbagai kalangan. Tampak di antara undangan, Ketua DPR RI Ade Komarudin, Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan dan Agus Hermanto, Ketua DPD RI Irman Gusman, serta Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad.

Selain itu, terlihat juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Yuddy Chrisnandi.

Tidak hanya dari dunia politik, terlihat juga tamu undangan dari berbagai latar belakang seperti budayawan, seniman, dan lain sebagainya.

‎Pria keturunan Minang ini mengungkapkan, buku setebal 522 halaman tersebut merupakan rangkaian perjalanan hidupnya selama 45 tahun. Berbagai kejadian penting dalam hidupnya, dituangkan ke dalam buku tersebut.

Ada beberapa pengalaman hidup yang sangat membekas dalam benak Fadli Zon. Pertama, soal dua kecelakaan beruntun hebat yang menimpanya saat masih duduk di kelas dua SMP.

Kecelakaan pertama terjadi pada Februari 1986. Ketika itu, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan kaki Fadli patah. Dia terpaksa dirawat selama tiga bulan di rumah sakit.

Berselang tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit, Fadli kembali mengalami kecelakaan hebat. Tragisnya, kecelakaan tersebut merenggut nyawa sang ayah, Zonwir atau Zon Harjo.

Semenjak kejadian tersebut, secara tidak langsung berdampak terhadap perekonomian keluarga. Sang ibunda pantang menyerah. Ibunda menginginkan Fadli dan kedua adiknya tetap menempuh pendidikan.

Tak mau membebani ibunda, Fadli mencari beasiswa. Dia kemudian tumbuh menjadi pemburu beasiswa hingga berhasil menempuh pendidikan ke Amerika.

Apa yang dilakukan Fadli semata untuk mewujudkan impian ayahnya. Kini Fadli bisa bernapas lega karena ‘utang’ kepada mendiang ayah terbayar lunas.

“Saya mensyukuri, apa yang diinginkan ayah saya yang meninggal 35 tahun lalu sudah tercapai. Ayah ingin saya jadi sarjana dan ikut pertukaran pelajar. Utang saya sudah selesai. Juga utang kepada ibu saya,” tutur Fadli.

Saat ini, Fadli yang dulu menjadi pemburu beasiswa telah menjelma sebagai anggota dewan yang mengabdi untuk rakyat. Fadli dipercaya oleh partainya menjadi Wakil Ketua DPR RI.

Menjabat sebagai pimpinan tertinggi di DPR, Fadli dikenal sangat kritis terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan pemahamannya. Tak heran jika banyak pihak yang tidak sejalan dengan sifat kritisnya tersebut.

“Saya tidak pernah ngoyo, yang terpenting kita berbuat yang terbaik. Kalau merasa benar, ucapkan benar. Sebagai (anggota) DPR dan wakil ketua, dijalankan sebaik-baiknya. Saya memasuki lorong-lorong waktu,” kata pria berkacamata ini.

Kembali kepada niat awalnya meluncurkan buku, Fadli mempersembahkan buku perdananya itu kepada ibunda tercinta.

Selain peluncuran buku, ada hal menarik dalam perayaan ulang tahun Fadli Zon. Dalam beberapa tahun terakhir, Fadli selalu menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri).

Tahun ini, Fadli Zon dinobatkan sebagai kolektor rokok terbanyak, kolektor wayang golek terbesar, dan penggagas wayang Minang.

 

Sumber

FADLI ZON DUKUNG SIMPOSIUM MELAWAN PKI

FADLI ZON DUKUNG SIMPOSIUM MELAWAN PKI

FADLI ZON DUKUNG SIMPOSIUM MELAWAN PKI

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon mendukung rencana para purnawirawan TNI untuk menyelenggarakan simposium melawan PKI pada 1- 2 Juni 2016.

Simposium melawan PKI ini dinilai sebagai tandingan Simposium Tragedi 1965 yang sebelumnya digelar oleh pemerintah.

“Saya sih mendukung yang dilakukan oleh pihak tentara supaya meluruskan sejarah. Kalau ada tiga, empat (simposium tandingan), saya kira boleh-boleh saja,” kata Fadli di DPP Gerindra, Sabtu (28/5/2016).

Para pensiunan TNI menganggap simposium sebelumnya yang dihadiri oleh Menkopolkam Luhut Panjaitan tidak mengakomodasi semua pihak sehingga mereka memutuskan untuk membentuk simposium lain.

Menurut Fadli, simposium tandingan berguna untuk komparasi sejarah yang terjadi pada masa lalu. Simposium tandingan juga dapat mewujudkan adanya kebebasan berekspresi.

“Semakin banyak yang melakukan simposium dan ada komparasi, saya kira sah-sah saja. Untuk melakukan freedom of expression,” ucap Fadli.

Sebelumnya, Ketua DPP Gerakan Bela Negara Mayjen TNI (Purn) Budi Sujana mengatakan, diperlukan obyektivitas dan keterbukaan untuk meluruskan sejarah.

“Kami minta tolong, kalau mau bikin (simposium rekonsiliasi) mari bikin sama-sama, panitia sama banyak dan pembicara seimbang,” ujarnya.

Begitu pun dengan korbannya, kata Budi, tak hanya korban setelah 1965. Namun, juga digali penyebabnya dari tahun-tahun sebelumnya hingga 1948.

 

Sumber