Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mempersilahkan masyarakat jika ingin berduyun-duyun melakukan Judicial Review (JR) Undang Undang MD3 (MPR, DPR, DPD, DPRD) ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Fadli mengatakan, UU MD3 itu berasal dari proses pembahasan di Badan Legislatif (Baleg) DPR RI, yang kemudian dibawa di rapat paripurna. Namun apabila ada hal yang dikoreksi, maka UU MD3 bisa dilakukan Judicial Review di MK.
“Kalau ada hal yang bertentangan atau tidak harmonis dengan Undang Undang yang lain saya pikir silakan Judicial Review di MK,” ujarnya saat ditemui Tribunjateng.com di Pendopo Kendal pada Rabu (21/2/2017) petang.
Ia pun membantah tudingan dari masyarakat apabila UU MD3 membuat anggota dewan menjadi anti kritik dan membungkam kebebasan berpendapat.
“Itu tidak benar, karena DPR harus dikritik, sama halnya dengan eksekutif yang harus juga dikritik,” ujarnya
Wakil Ketua DPR RI itu mengatakan, adanya UU MD3 bukanlah menjadi ancaman bagi masyarakat dalam mengeluarkan pendapat.
“Kami tidak ingin mereduksi kebebasan berbicara dan berpendapat yang telah dilindungi dalam Undang Undang dasar,” pungkasnya
Hobi mengumpulkan perangko atau filateli seolah menjadi hobi yang sudah tidak relevan lagi di zaman yang serba canggih saat ini. Namun, jika diselami dan dipahami, hobi filateli ternyata adalah hobi yang sangat bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga bagi peradaban sebuah bangsa.
“Saya kira kalau kita belum memasuki dan menyelami, (filateli) mungkin kelihatannya adalah hobi yang sudah tidak lagi relevan. Menurut saya ini bagian dari material culture. Saya sendiri ikut mengkoleksi baik secara tematik dan juga secara histori,” beber Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia Fadli Zon di Gedung Pramuka dalam acara Pelantikan Pengurus Daerah PFI Jateng periode 2017-2022, Rabu (21/2).
Fadli melihat, hampir dalam setiap perjalanan suatu bangsa, ditandai oleh perangko. Sehingga, menjadi penanda sekaligus identitas sebuah bangsa. Terutama bagi bangsa yang baru merdeka, pada umumnya selain bangsa tersebut harus punya uang, juga punya perangko.
“Saya lihat apa yang telah kita capai hampir selama 73 tahun Indonesia merdeka, identitas perangko itu ada. Meski kita sudah di era digital, kadang kita rindu dengan hal-hal yang sifatnya material karena kalau pegang aslinya rasanya lain dengan yang digital,” tuturnya.
Saat ini, Fadli berpandangan, Indonesia mendapatkan tantangan untuk menciptakan perangko-perangko yang lebih kreatif. Terlebih, di tengah kondisi generasi muda yang tak lagi mengenal perangko. Sebab, kreativitas perangko-perangko dari luar negeri, menurutnya sudah luar biasa.
“Perangko kita memang mulai kreatif. Tidak hanya dilem kertas dan dicetak, tapi sudah menggunakan macam-macam bahan. Ini tantangan dan supaya bisa menarik generasi muda saat ini yang mungkin sangat jauh imajinasi dari perangko,” ungkapnya.
Ketua PD PFI Jateng Slamet Budi Prayitno menyambung, jajaran kepengurusannya berharap banyak kaum muda yang kembali menyenangi hobi filateli. Sebab, filateli merupakan bagian dari artefak sejarah atau salah satu bukti sejarah.
“Melalui filateli kita bisa membaca dan bisa mengetahui sejarah dari filateli yang pernah diproduksi dalam berbagai momen, dan pada periode tertentu dan dengan tema-tema tertentu. Ini saya kira bahan pendidikan yg cukup penting untuk bangsa ini. Jadi saya sangat terpanggil,” ucap dia.
Nilai sejarah yang terkandung dalam filateli, imbuh Budi, juga bisa membantu menyelesaikan persoalan jika ada perdebatan sejarah karena bisa menjadi alat pembuktian. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP menyambung, hobi mengumpulkan perangko bukanlah hobi orang gila seperti yang disebut Pengurus Demisioner PFI Jawa Tengah, Sugiyanto. Sebab, penghobi filateli pastilah orang yang cermat. Kalau tidak cermat, pasti tidak mengetahui value yang ada di dalamnya.
Fadli Zon menyampaikan di samping sebagai salah satu bentuk artefak sejarah, perangko juga bernilai ekonomi tinggi. Nilai ekonomi yang tinggi dipengaruhi oleh kelangkaannya dan peristiwa yang terekam di dalamnya.
“Kegiatan mengumpulkan perangko juga dapat membentuk sifat dan sikap mental yang positif, antara lain semangat berburu perangko untuk melengkapi koleksi, sabar saat perangko belum lengkap serinya, tekun dalam menyusun koleksi, hati-hati supaya perangko tidak rusak. Selain itu juga kreativitas dan seni dalam menyusun perangko pada lembaran album, serta teliti, cermat dan jeli supaya dapat membedakan perangko yang mahal, langka atau biasa,” tutupnya.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon meminta pemerintah secara serius untuk mengevaluasi insiden kecelakaan kerja yang berturut-turut terjadi dalam lima bulan terakhir. Termasuk peristiwa ambruknya pierhead Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) pada saat proses pengecoran, Selasa (20/2/2018) lalu.
“Kita tentu saja prihatin atas insiden yang mencelakai tujuh orang pekerja kemarin, dan insiden tersebut sangat mengkhawatirkan. Karena ini merupakan insiden yang kesembilan dalam lima bulan terakhir,” tegas Fadli di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (21/2/2018).
Menurut Fadli, terjadinya insiden-insiden itu menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan para pekerja, dimana para kontraktor tidak bisa menerapkan zero accident. Terlebih bagaimana masyarakat luas bisa percaya, jika infrastruktur tersebut nantinya akan aman digunakan atau tidak.
“Saya menilai keputusan pemerintah dengan menghentikan sementara seluruh proyek elevated, dan akan melakukan audit keselamatan pada seluruh pengerjaan konstruksi yang sedang berlansung adalah tepat. Jangan sampai ada kecelakaan serupa,” tambahnya.
Politisi F-Gerindra itu juga mengingatkan untuk memperhatikan dengan seksama proyek pembangunan infrastruktur yang sedang berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perencanaan dan keselamatan, serta selesaikan dengan sewajarnya saja tanpa dibebani kepentingan pencitraan.
Fadli menambahkan jika pemerintah butuh etalase politik untuk menghadapi tahun politik 2019, alangkah lebih baiknya pemerintah juga harus memahami jika proyek infrastruktur tidak dikerjakan dengan benar dan menghormati prosedur, hal itu akan menjadi etalase buruk atas kinerja pemerintah selama ini.
“Jadi, semestinya pemerintah ini bekerja dengan ukuran realistis. Jangan mimpi membangun candi, tetapi cukup dengan letakkan saja batu-batu pada tempatnya dengan benar,” tutupnya.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan, organisasi masyarakat Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar) yang menjadi tempat berhimpunnya Jawara dan Pengacara, sangat dibutuhkan masyarakat lemah dan tertindas, supaya mereka tidak diganggu atas hak-haknya, termasuk bantuan hukum.
“Saya kira Ormas ini bagian dari respon masyarakat dari keadaan Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Ormas seperti ini harus dipertahankan karena hadir untuk menunjukkan kebenaran” kata Fadli saat menerima Sekjen Bang Japar Eka Jaya beserta jajaran, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (19/2/2018).
Dalam kesempatan itu, Fadli juga mendapat undangan dari Bang Japar untuk hadir di acara Milad pertama Bang Japar yang akan digelar di Rumah Jabatan Anggota DPR RI Kalibata, Jakarta Selatan.
Fadli mengharapkan, dengan momentum Milad Bang Japar ini agar selalu berada di garda terdepan untuk membela hal yang benar, kaum dhuafa, hingga masyarakat yang tertindas yang diperlakukan tidak adil.
“Disini ada gabungan orang jawara dan pengacara, tentu skill ini sangat dibutuhkan untuk membela masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama Sekjen Bang Japar Eka Jaya mengatakan undangan yang langsung disampaikan ke Fadli merupakan rekomendasi dari musyawarah Anggota. Fadli dinilai salah satu Anggota DPR RI yang popular dan membela kepentingan ummat.
“Kita ingin bang Fadli hadir di Milad yang pertama ini sebagai tokoh dan anggota legislatif yang peduli umat,” kata Eka.
Bang Japar sampai saat ini sudah beranggotakan lebih kurang 5.000 orang dan 500 orang terdiri dari pengacara. Selain di Jakarta, wilayah persebaran Bang Japar sudah ada di Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, serta Yogyakarta dan Solo yang akan diresmikan tanggal 3 dan 4 Maret 2018.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengecam keras penyerangan terhadap ulama yang kembali terjadi di Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur pada Minggu (18/2/19) lalu. Penyerangan tersebut dialami oleh Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, KH. Hakam Mubarok.
Fadli menegaskan, hal tersebut harus diusut tuntas dan mendapatkan perhatian lebih dari aparat, karena peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi.
“Ini polanya terlihat masif, terstruktur dan juga sistematis. Masif disini artinya ada di berbagai tempat dan banyak kasus,” ujarnya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (19/2/2018).
Selain peristiwa yang terjadi berulang, Fadli menilai penegak hukum dirasakan tidak hadir, serta tidak bisa memberikan jaminan keamanan. Dampaknya, masyarakat akan mencari jalannya sendiri untuk melindungi diri mereka.
“Apa lagi ini adalah para ustadz, dimana mereka adalah tokoh masyarakat setempat. Saya kira ini harus diusut tuntas dan jangan sampai terulang di tempat lainnya,” tambah Fadli.
Ketika ditanya mengenai perlunya badan intelijen dalam menangani hal ini, Fadli menyatakan bahwa hal itu sangat diperlukan, karena ini untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat luas.
“Pasti dan harus otomatis ya. Karena disaat kita mendapat informasi mengenai akan terjadinya suatu penyerangan, hal-hal itu bisa diatasi sebelum terjadi,” tutupnya
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi yang membawa nama kemahasiswaaan dan juga menjadi organisasi Muhammadiyah yang merepresentasikan kepentingan rakyat.
“Kita tahu bahwa IMM cukup kritis terhadap lembaga negara yang dinilai kurang baik. Saya ikut mengapresiasi apa yang menjadi bagian dari perjuangan rekan-rekan di IMM ini” ungkap Fadli saat menerima Pengurus IMM, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta (19/2/2018).
Politisi F-Gerindra ini menambahkan, organisasi IMM selalu terlibat dalam membantu masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya. “Tentu saya sangat mendukung aktivitas yang positif. IMM juga menjadi tempat latihan untuk calon pemimpin-pemimpin ke depannya, dan terbukti telah banyak juga tokoh yang lahir dari organisasi ini” imbuh Fadli.
Fadli juga menyoroti posisi mahasiswa yang saat ini memasuki tahun politik. Ia mengatakan mahasiswa mempunyai dua peranan penting, yakni sebagai masyarakat yang mempunyai hak suara politiknya dan kaum intelektual yang mendapat pandangan lebih dari masyarakat.
“Tentu mereka ini sebagai voice of people, yang punya peranan di masyarakat untuk pencerdasan langsung secara politik” ujar politisi asal dapil Jabar itu.
Sebelumnya, Ketua Umum IMM Irfan Surya mengungkapkan, pihaknya menyampaikan undangan kepada Fadli dalam Muhtamar IMM sekaligus menjadi pembicara untuk Gagasan Kebangsaan yang akan diselenggarakan di Sulawesi Tenggara, 1 sampai 6 Mei 2018 mendatang. Fadli pun menyambut baik undangan yang diterimanya itu.
“Kami butuh masukan dari Pak Fadli, sehingga gagasan yang kami lahirkan di mukhtamar nantinya bisa sejalan dengan arah Indonesia saat ini. Kami melihat dan menilai secara objektif kondisi bangsa ini, sehingga gagasan dan masukan Pak Fadli kami butuhkan,” ujar Irfan.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta pemerintah turun tangan menyelesaikan aksi penyerangan terhadap para tokoh agama dan pihak yang berupaya melakukan politik adu domba. Menurutnya, jika masalah ini tidak diselesaikan maka akan menimbulkan konflik sosial di masyarakat.
“Kalau ini dilakukan sistematis dan negara tak hadir saya kira akan memicu konflik di bawah. Saya kira segeralah ini diamankan, hentikan siapa pun di balik ini untuk lakukan politik adu domba,” kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan,Jakarta Senin (19/2)
Fadli mengungkapkan saat ini para pemuka agama di daerah pemilihannya di Bogor, Jawa Barat merasa diintai dan diincar. Bahkan, mereka selalu membawa senjata tajam untuk melindungi diri dari serangan pihak tertentu.
“Soal penyerangan tokoh agama saya waktu kemarin saya datang ke dapil ya juga melihat ustaz-ustaz yang merasa diintai, ada juga rumah-rumah ditandai pakai tanda cross, ada juga lingkaran di beberapa tempat,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mendesak aparat penegak hukum untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, khususnya para tokoh agama.
“Saya kira aparat keamanan harus berikan jaminan keamanan, jangan sampai ini berulang, nanti kalau enggak ada jaminan keamanan masyarakat akan berikan proteksi keamanan sendiri dan ini bisa timbulkan konflik sosial,” tandasnya.
Diketahui, seorang pria tak dikenal melakukan penyerangan terhadap kiai di Ponpes Muhammadiyah Karangasem, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Pelaku yang diduga gila dan diamankan santri lalu diserahkan ke polisi.
Penyerangan kepada tokoh agama dan ulama yang pelakunya disebut sebagai “orang gila”, mengundang keprihatinan.
Terakhir, menimpa pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur, KH Hakam Mubarok, Minggu (18/2).
Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan saat datang ke daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat (Jabar) V, mendapat informasi bahwa para ustaz sudah merasa diintai.
“Ada juga rumah-rumah ditandai pakai tanda cross (silang), ada juga lingkaran di beberapa tempat,” kata Fadli di gedung DPR, Jakarta, Senin (19/2).
Fadli mengatakan aparat harus memberikan jaminan keamanan jangan sampai kejadian penyerangan ulama terus berulang.
Menurut dia, kalau tidak ada jaminan, masyarakat akan memberikan proteksi keamanan sendiri sehingga bisa menimbulkan konflik sosial.
“Sekarang ini banyak masyarakat salat subuh membawa senjata tajam, ada yang bawa kelewang, badik, dan lainnya untuk memeroteksi diri dari yang katanya orang-orang gila ini,” ujarnya.
Jebolan Development Studies, London School of Economics & Political Science, Inggris, ini menambahkan kalau peristiwa penyerangan ulama ini dilakukan sistematis dan negara tak hadir, maka akan memicu konflik di bawah.
“Saya kira segeralah ini diamankan. Hentikan siapa pun di balik ini untuk lakukan politik adu domba,” tuntas anak buah Prabowo di Partai Gerindra itu.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Fadli Zon, mendukung kegiatan penyelenggaraan Islamic Book Fair (IBF) 2018.
Bahkan, Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini berharap, Islamic Book Fair mampu membangkitkan kembali sejarah keemasan peradaban Islam.
Peradaban Islam maju karena budaya literasi, membaca dan menulis. Maka saat ini, harus ditingkatkan lagi kemajuan peradaban Islam tersebut,” ujar Fadli Zon saat menerima audiensi dan silaturahim pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta dan Panitia Islamic Book Fair, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/2).
Rombongan Pengurus Ikapi DKI dipimpin oleh Hikmat Kurnia, selaku ketua, didampingi Mahmud Anis Baswedan, ketua panitia Islamic Book Fair ke-17. Juga hadir Ketua Dewan Pertimbangan Ikapi DKI HE Afrizal Sinaro, Bendahara Ikapi Endah P, dan Koordinator Humas Ikapi Syahruddin.
Fadli Zon mengatakan, para intelektual Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al Farabi, hingga Imam Al-Ghazali adalah tokoh sejarah kemajuan peradaban Islam di masa lalu. “Kita berharap, melalui Islamic Book Fair ini, kejayaan Islam di Indonesia, khususnya, bisa semakin lebih maju lagi,” terangnya.
Ia menyebutkan bagaimana Ibnu Sina mengulas tentang ilmu kedokteran, Al-Khawarizmi menemukan angka nol, dan lain sebagainya. “Kita berutang budi kepada mereka. Bayangkan saja, komputer tidak akan ditemukan, laptop, bahkan kalkulator tak mungkin ada sampai saat ini, jika tokoh Islam seperti Al-Khawarizmi tidak menemukan angka nol,” ungkapnya.
Karena itulah, lanjut Fadli Zon, Islamic Book Fair menjadi momentum bagi umat Islam di Indonesia untuk memajukan peradaban Islam d Tanah Air ini. “Saya sangat antusias dan mendukung sepenuhnya kegiatan Islamic Book Fair ini. Dan saya sangat bangga bisa terlibat dalam penyelenggaraan Islamic Book Fair 2018 ini,” kata dia.
Islamic Book Fair ke-17 akan diselenggarakan pada 18-22 April mendatang di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Pameran buku Islam terbesar di Tanah Air tahun 2018 ini diperkirakan akan diikuti sebanyak 267 peserta yang terdiri atas penerbit buku, perbankan, properti syariah, busana Muslim, mainan anak, makanan halal, dan lain sebagainya.
Setiap tahun, pameran buku Islam ini mampu menarik pengunjung ratusan ribu orang, baik anak-anak sekolah, karyawan, mahasiswa, orang tua, maupun kalangan lainnya. “Islamic Book Fair merupakan pameran buku Islam terbesar di Tanah Air, bahkan di dunia,” kata Hikmat Kurnia.
Hikmat mengungkapkan, pameran buku sejenis, baik yang diselenggarakan di Indonesia maupun di luar negeri seperti Frankfurt Book Fair, Cairo Boook Fair, Beijing Book Fair, Bologona Book Fair, jumlah pengunjung berkisar 200 ribuan orang. “Islamic Book Fair di Jakarta, mampu menyedot pengunjung hingga 400 ribu orang,” ungkapnya.
Ketua Panitia IBF 2018, M Anis Baswedan menerangkan, pameran buku Islam di Tanah Air ini sudah menjadi tradisi dan destinasi wisata bagi umat Islam. “Setiap tahun, ribuan pengunjung datang dari berbagai pelosok daerah, baik santri maupun kalangan umum,” terangnya.
Tak hanya itu, kata Anis, pengunjung dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Cina, juga sering datang dan hadir di acara Islamic Book Fair. “Umumnya, mereka mencari buku-buku Islam terbaik dari Tanah Air,” kata Anis Baswedan.
Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon membuka Pameran Tunggal Seni Rupa bertajuk “Breaking Through” karya Aurora Santika Pangastuti di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73 Menteng, Jakarta, Senin (19/2/2018) malam. Fadli yang juga seorang budayawan Indonesia ini memberikan apresiasi atas hasil karya pelukis muda 22 tahun yang akrab disapa Ara tersebut.
Sebanyak 23 lukisan hasil karya gadis kelahiran Bogor 19 Juni 1996 dengan kurator, maestro lukis Indonesia, Prof. Suwarno Wisetrotomo, dipamerkan dalam ajang yang digelar dari 19 – 25 Februari 2018 ini. “Melihat 23 karya lukisan Ara dalam `Breaking Through`, saya sangat bergembira karena telah hadir satu pelukis perempuan muda yang memiliki tema menarik, dengan warna-warna menonjol dan liar,” ujar Fadli Zon dengan nada pujian.
Menurutnya, Ara berhasil merebut dunia perempuan dalam fantasi laki-laki yang lebih banyak menempatkan perempuan dari estetika tubuhnya, bukan pada persoalan kompleksitas kehidupannya.
Bahkan dengan jeli Ara menangkap persoalan perempuan yang lebih kompleks, rumit dan kadang tak dipahami laki-laki. “Disana ada kemiskinan, pelecehan seksual, keterasingan, penindasan, women trafficking, hingga kasus pernikahan anak,” tuturnya.
Menurutnya, 23 lukisan Ara dalam “Breaking Through” menjadi penanda kegelisahan perempuan di Indonesia. Keberpihakan Ara terlihat jelas dalam lukisan-lukisannya. Ada keterpojokan pada perempuan. Situasi tertindas, pelecehan, hingga menjadi korban eksploitasi. Seni rupa sebagai media visual efektif menyampaikan pesan persoalan-persoalan perempuan ini dengan warna kaya dan sapuan lentur.
Kehadiran Ara, sambung Fadli, telah membawa energi dan harapan baru dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Ara berhasil membawa kompleksitas persoalan perempuan dalam lukisan-lukisannya, tapi ia juga telah menemukan identitas dirinya sebagai perupa perempuan generasi baru di barisan depan.
Sementara itu, seniman KP Hardi Danuwijoyo menyebut Ara sebagai perempuan yang mempunyai “Hoki” besar. Sehingga bisa melakukan aktivitas, dan berjodoh melakukan pameran di Taman Ismail Marzuki, di Gallery Cipta II hanya seorang diri. Suatu keberuntungan yang tak bisa dipungkiri bisa membuat iri teman-teman pelukis seumurannya. Selain itu karya Ara bisa disebut neo-surrealism atau mudahnya disebut kontemporer.
“Yang dominan adalah dalam memilih subyek psikologi bertolak dari dirinya sendiri,” paparnya.
Hadi menilai karya Ara bukan sekedar pemberontakan menembus batas sebagai seniman muda, tetapi ada negasi terhadap persoalan aktual faktual yang terjadi disekitarnya. “Sangat idealis, ia tidak terpengaruh oleh tuntutan pasar lukisan yang sedang ngetren saat ini, melainkan dia berusaha untuk menciptakan pasarnya sendiri. Barangkali ia tak mau politik. Ia mencari dunia-nya sendiri yang nyaman bagi dirinya,” ungkapnya.
Sementara itu Ara mengatakan, pameran tunggal berjudul “Breaking Through” ini merupakan langkah awal menapaki dunia profesionalitas seni rupa. Hal ini juga sekaligus perkenalannya dengan lingkaran seni rupa di Jakarta. Ia pun berharap karyanya dalam pameran ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat penikmat seni di Jakarta serta dapat meramaikan wacana sepak terjang perupa perempuan di Indonesia.
Ara mengaku senang membuat karya yang menceritakan suatu kisah yang bermakna. Sebab, karya seni yang baik adalah karya yang ‘bercerita’ dan dapat menginspirasi pengamatnya untuk berpikir serta berbuat kebaikan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Karenanya, kisah yang disampaikan melalui karya-karyanya merupakan kisah yang terinspirasi dari pengalaman hidup baik yang dialami sendiri secara langsung maupun diamati dari sudut pandang pihak ketiga.
“Problematika seperti bullying dan hingga kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi tema yang penting bagi saya untuk diangkat menjadi karya seni lukis,” pungkasnya.