Usai IPPP, Indonesia Semakin Optimis Jadi ‘Sahabat’ Melanesia-Pasifik

Konfrensi parlemen Indonesia dengan parlemen negara-negara pasifik, Indonesia-Pasific Parliamentary Partnership (IPPP) yang digelar di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, telah berlangsung sejak tanggal 23-25 Juli 2018. Konfrensi ini mengambil tema Human Development and Maritime Sustainability.

Yang hadir dalam konferensi itu adalah para pimpinan Parlemen dari berbagai negara kawasan Pasifik, antara lain Wesley W. Simina (Ketua Kongres Mikronesia), Jiko Luveni (Ketua Parlemen Republik Fiji), Tebuai Uaai (Ketua Parlemen Republik Kiribati), Cyril Buraman (Ketua Parlemen Republik Nauru), Kenneth A. Kedi (Ketua Parlemen Republik Kepulauan Marshall), Japsper Nasiu (Ketua Parlemen Kepulauan Solomon), Fatafehi Fakafanua (Ketua Parlemen Kerajaan Tonga), Gaston Tong Sang (Ketua Parlemen French Polynesia), John Simon (Wakil Ketua Parlemen Papua Nugini), dan Lecourieux Yoann (Wakil Ketua Parlemen New Caledonia).

Konferensi ini dipimpin Fadli Zon selaku Ketua Sidang didampingi Ketua Parlemen Fiji, Jiko Luveni.

Dalam kegiatan ini, dilansir akurat.co.id edisi 24 Juli 2018, DPR RI bersama delegasi negara-negara Pasifik juga menanam 16 jenis pohon langka di seluruh Indonesia. Ke-16 pohon ini ditanam langsung oleh ketua-ketua parlemen Pasifik peserta IPPP.

“Hari ini kita melakukan penanaman pohon di DPR, kita saksikan ada 16 perwakilan dari pohon-pohon langka yang ada di seluruh nusantara. Saya kira ini akan menjadi kenang-kenangan DPR dan pimpinan parlemen sekawasan Pasifik,” kata Fadli usai menanam pohon di kawasan Parlemen.

Setelah menanam pohon, Fadli memimpin peserta untuk mengelilingi gedung DPR. Mulai dari Perpustakaan, Museum, Ruang Rapat Komisi hingga Museum DPR. Selanjutnya, delegasi mengunjungi kawasan wisata Ancol, Jakarta Utara.

“Delegasi akan ke Ancol untuk melihat satu integrated tourism laut karena Pasifik kan laut. Kemudian ada juga beberapa kegiatan lain dari konferensi Indonesia Pasifik Parliamentary Partnership ini,” lanjutnya.

Sebagai penyelenggara, mulai tumbuh optimisme bahwa di masa depan Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi-politik baru negara-negara Melanesia dan Pasifik. Apalagi, beberapa negara yang mengirim parlemennya itu, setahun yang lalu bahkan telah mengumumkan mendukung kemerdekaan rakyat Papua di Tanah Papua.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menegaskan optimisme ini dalam sesi jumpa pers usai konfrensi IPPP.

“Dalam pertemuan-pertemuan bilateral disampaikan bahwa mereka berharap Indonesia menjadi leader, pengambil inisiatif untuk Kawasan Pasifik,” kata Fadli kepada wartawan, sebagaimana dikutip akurat.co.id edisi 24 Juli 2018.

Fadli menyatakan, dalam sidang IPPP, Indonesia merupakan kekuatan ekonomi baru dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hampir 862 miliar dolar AS.

“Selain di bidang ekonomi, Indonesia dipandang sebagai negara demokrasi terbesar dunia dan juga selalu terbuka dan ingin bekerja sama dengan negara-negara yang ada di Pasifik,” ujar Wakil Ketua DPR bidang Koordinator Politik dan Keamanan ini.

Menurut dia, hampir semua delegasi dari negara yang hadir menyampaikan forum ini sebenarnya terlambat.

Dilansir teropongsenayan.com edisi Kamis 26 Juli 2018, Fadli menjelaskan, sebagai negara besar Indonesia seharusnya sudah sejak lama menjadi inisiator forum kerja sama seperti ini.

“Semua negara sebenarnya sudah lama memimpikan ada forum kerja sama semacam ini dengan Indonesia, yang mereka sebut sebagai ‘kakak’,” ucapnya.

Untuk Kasus Papua, IPPP Ubah Pandangan Pasifik

Fadli mengklaim, para wakil rakyat dari negara-negara Pasifik itu mengaku salah paham selama ini, menerima informasi tidak benar mengenai Indonesia dan Papua. Negara-negara Pasifik juga berkomitmen untuk mendukung Papua dalam bingkai NKRI.

“Mereka mengaku salah paham terhadap Indonesia, dan ternyata Indonesia tidak seperti yang digembar-gemborkan kejelekannya, terutama soal Papua. Mereka berharap Indonesia bisa mengambil peran terhadap negara Pasifik, yang selama ini diambil oleh negara lain. Dan mereka berterima kasih telah diundang ke Jakarta,” ungkapnya dalam konferensi pers hasil IPPP hari pertama di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Senin (23/7/2018) malam.

Menurut Fadli, masalah Papua memang tidak dibahas secara khusus di IPPP, namun mereka berkomitmen mendukung sikap Indonesia terhadap Papua.

“Negara Pasifik yang mendukung Papua Merdeka itu hanya satu-dua saja, tidak banyak dan tidak semua. Sebagian besar Negara Pasifik tidak mendukung Papua Merdeka, itu komitmen mereka dari pertemuan IPPP ini,” katanya.

Di forum , dilansir batamtoday.com edisi 24 Juli 2018, Fadli mengklaim negara-negara Pasifik meminta maaf terhadap dukungan atas perjuangan Papua Merdeka karena ketidaktahuan tentang Papua sebenarnya.

“Setelah mendapat info yang lengkap di forum ini, maka mereka menyatakan tidak akan mengungkit soal Papua merdeka lagi,” katanya.

Fadli menegaskan, DPR akan mengawal hasil pertemuan IPPP sesuai kesepakatan yang telah dicapai. Bahkan DPR akan menginisiasi akan melanjutkan pertemuan IPPP digelar di Negara Pasifik secara berkala.

“Kita sedang merancang untuk melanjutkan pertemuan ini, kita tentu tidak ingin pertemua sampai di sini atau di Jakarta saja. Kita masih bahas pertemuan lanjutan IPPP di Negara Pasifik, waktunya kapan nanti kita bahas. Prinsipnya DPR akan menginisiasi agar hasil-hasil IPPP bisa dijalankan sesuai kesepakatan yang telah dicapai,” kata Fadli.

Ketua Tim Diplomasi Parlemen Indonesia ini menambahkan, IPPP merupakan forum inisiatif DPR sekaligus terobosan penting diplomasi parlemen untuk mendukung kepentingan Indonesia di tengah-tengah negara tetangga di kawasan Pasifik.

 

Sumber

© Copyright 2015.