oppsunggu-dan-fadli-zon

Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) meluncurkan buku ‘Pengecam Polos Indonesia Tiada Tara’ di Ruang Serbaguna Perpustakaan Nasional, pada Rabu (9/10/2019).

Buku ini berisikan sebuah kompilasi 53 kritik terpilih yang dikemukan oleh kritikus senior, HMT Oppusunggu. Oppu, sapaan akrabnya, telah lama mengkritik dibidang ekonomi sejak zaman orde baru hingga zaman pemerintahan Jokowi.

Kritik-kritik Oppu awalnya ditulis dalam bentuk surat, artikel, atau gugatan dan dikirimkan ke berbagai media massa maupun pihak berkepentingan. Sebagian ada yang kemudian dikumpulkan menjadi buku.

“Isi kritik saya supaya membangun Indonesia. Seperti yang saya tulis dalam buku saya, tujuan pertama itu supaya kita jangan dijajah terus,” kata Oppu di atas kursi rodanya.

Meskipun sudah sepuh, Oppu masih berharap Indonesia bisa lepas dari jajahan negara lain. Salah satu yang tertulis di bukunya, ia mengkritik eksistensi freeport di tanah air.

“Keliatan sambutan atas tujuan dari tulisan saya, supaya freeport dihilangkan dari idonesia. Dengan nasionalisasi, mengusir freeport dari Indonesia, kita bangun smelter sendiri,” ucapnya.

Menurut Oppu, pertambangan tanah air memilih potensi yang sangat besar untuk menginjeksi devisa negara yang masih belum optimal.

“Kita mempunyai pertambangan yang terbesar di dunia, Ini bisa jadi pemberian devisa. Ini yang harus kita tempuh,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, mantan wakil ketua DPR RI, Fadli Zon juga mengungkapkan sosok Oppu di Indonesia. Ia telah mengenal lama sosok seniornya tersebut.

“Selamat atas terbitnya buku pak Oppu ini. Saya mengenal beliau sudah puluhan tahun. Saya punya pikiran sama, terutama dibidang ekonomi, saya sering berdiskusi dengan beliau,” kata Fadli.

Oppu, menurut Fadli, mempunyai kritik-kritik yang mendalam untuk kemajuan Indonesia sejak dulu. Ia mengingat Oppu sebagai kritikus yang tak gentar dengan berbagai tekanan.

Setahu saya pak Oppu tidak goyang. Terutama saat IMF itu termasuk sangat mempunyai tanggung jawab kehancuran ekonomi indonesia 97 98. Karena dia ikut menyiram bensin ditengah api. Itu yang dikritik oleh pak Oppu,” ungkapnya.

Fadli juga mengaku banyak belajar dari Oppu mengenai cara mengkritik.

“Kritik itu harus mempunyai dasar yang kokoh. Saya suka mengkritik, karena hidup itu harus ada proses dialektika. Bangsa yang tidak ada kritik di dalamnya akan menjadi bangsa macam apa. Apalagi kita sudah memilih jalan demokrasi,” tutupnya.

Sebagai informasi, KPG menerbitkan buku ini sebagai bentuk penghargaan terhadap seorang yang setia menjadi penjaga nalar bangsa dalam membina negara demokrasi.

HMT Oppusunggu lahir di Pematangsiantar pada 23 Agustud 1923. Dia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi dan Universitas Yale.

Di UI, dia pernah menjadi asisten pengajar begawan ekonomi Indonesia, Prof Soemitro Djojohadikusumo yang juga merupakan ayahanda dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Selain pengajar, dia pernah menjadi staf PBB untuk komisi ekonomi dan sosial untuk Asia Pasifik.

 

Sumber

© Copyright 2015.