fadli-zon_20180415_123649

Video Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon saat menyanyikan lagu Rusia ternyata menuai pro kontra.

Di akun Twitter-nya, Fadli Zon mengunggah video saat dirinya menyanyikan lagu berbahasa Rusia yang berjudul Katyusha.

Ia menyanyikan lagu tersebut saat bersantai di sebuah tempat wisata The Paseban Hidden Paradise, Megemandung, Puncak, Bogor.

Dengan diiringi suara gitar, Fadli Zon fasih menyanyikan lagu berbahasa Rusia tersebut.

“Sore ini di @thePaseban Megamendung, sy iseng2 menyanyikan lagu “Katyusha” lagu patriotis Rusia yg diciptakan pd tahun 1938 oleh Matvei Blantar dgn lirik dari Michael Isappoover.
@PutinRF_Eng @RBTHIndonesia”¬†tulisnya.

Beberapa orang memuji penampilan Fadli Zon, tapi ada pula yang menganggap kalau lagu yang dinyanyikan merupakan lagu komunis.

Namun, ternyata anggapan kalau lagu ‘Katyusha’ adalah lagu tentang komunis tak benar.

Sebuah akun twitter @RBTHIndonesia, akun situs yang memberitakan seputar Rusia menjelaskann kalau Katyusha sebenarnya lagu tentang patriotisme.

katyusha merupakan panggilan sayang untuk Ekaterina.

Lagu ini berkisah tentang seorang gadis yang bernyanyi di tepi sungai untuk kekasihnya, seorang prajurit yang pergi ke medan perang.

Kekasihnya itu berjuang membela rakyat dan tanah airnya (pada Perang Dunia II), sedangkan sang gadis akan tetap setia menunggunya.

Berikut penjelasannya :

“Ketika Perang Patriotik Raya (sebutan kami untuk Perang Dunia II) dimulai pada Juli 1941, seorang siswi dari sekolah industri Soviet di Moskow menyanyikan lagu ini sebagai ucapan selamat tinggal pada para prajurit yang pergi ke medan perang melawan Nazi Jerman.”

Setelah itu, lagu ini dengan cepat menjadi populer di seluruh Uni Soviet. Judul lagu ini bahkan dijadikan julukan bagi peluncur roket BM-8, BM-13, dan BM-31 legendaris yang digunakan Tentara Merah pada Perang Dunia II.

Jadi, “sayangnya”, ini bukan lagu Komunis. Bukan. Ini lagu tentang perpisahan, lagu yang mengiring kepergian pemuda-pemuda Soviet yang hendak pergi ke medan perang demi mempertahankan negaranya. Saat itu, Uni Soviet (tentu saja) adalah negara Komunis, tapi ini bukan lagu Komunis.

Kami pikir, di sini sangat jelas perbedaannya. Jadi, lagu ini memang sampai sekarang masih populer di mana-mana, bukan hanya di Rusia dan di negara-negara pecahan Soviet, tapi juga di seluruh dunia, di antara para penggemar sejarah, khususnya sejarah Rusia, dsb.

Jadi, kalau ada yang menyanyikan lagu “Katyusha”, bukan berarti orang itu “mengagung-agungkan” Komunisme, bukan. Itu tidak ada hubungannya sama sekali (bahkan kalau Anda baca terjemahan lirik lagunya sekalipun). Justru ini lagu patriotik saat perang melawan Nazi Jerman.”

 

Sumber

 

 

© Copyright 2015.