PENDAHULUAN
Pertama-tama, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih atas undangan pimpinan IFEA untuk berbicara dalam business luncheon siang hari ini.
Adalah tepat dan memang pada waktunya bahwa para eksekutif keuangan yang tergabung dalam Asosiasi ini sudah mulai memikirkan arti dan implikasi normalisasi hubungan RI-RRC di bidangnya.
Normalisasi atau pemulihan hubungan diplomatik antara kedua pemerintahan RI-RRC memang bukan lagi merupakan permasalahan, karena sudah menjadi keputusan politik dan tinggal menunggu saat pelaksanaannya yang tepat. Dampaknya secara politis tidak akan saya bahas dalam kesempatan ini, karena dalam acara ini kita akan lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah perdagangan dan investasi. Namun sebelum beralih ke materi pokok, kita perlu mencatat bahwa
dampak normalisasi hubungan diplomatik dengan RRC juga menyangkut pihak lain, terutama karena adanya rumusan dalam konstitusi RRC mengenai Taiwan.
Indonesia tetap konsisten dalam berpegang pada kebijaksanaan satu Cina, walaupun telah hampir 25 tahun terjadi pembekuan hubungan diplomatik antara kedua negara. Selama masa pembekuan hubungan diplomatik itu, hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Taiwan pada tingkat tidak resmi telah berkembang dan semakin meningkat. Kita menghendaki agar pemulihan hubungan diplomatik dengan RRC tidak mengubah status dan kerangka hubungan ekonomi dan perdagangan yang telah terjalin dengan Taiwan selama ini. Dalam menerapkan kebijakan satu Cina, kita berkeinginan untuk tetap memelihara dan terus meningkatkan pendayagunaan potensi ekonomi Taiwan guna kepentingan pembangunan nasional. Oleh karena itu, kita harapkan bahwa normalisasi hubungan RI-RRC tidak akan menimbulkan efek samping yang bersifat negatif terhadap kegiatan investasi dan perdagangan dengan Taiwan.

© Copyright 2014.