Angka Kapal Celaka Naik, Fadli Zon Pertanyakan Poros Maritim

Wakil Ketua DPR  Fadli Zon menyoroti kecelakaan kapal yang terjadi secara beruntun belakangan ini. Insiden terakhir adalah KM Maju Lestari di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.

“Saya membaca di berita, sudah 35 korban tewas. Kami berharap jumlahnya tak bertambah lagi, dan para korban yang selamat dapat segera diberikan pelayanan dan jaminan pembiayaan perawatan dari pemerintah,” kata Fadli, Kamis (5/7).

Wakil ketua umum Partai Gerindra itu mengatakan, kejadian tragis itu harus menjadi perhatian pemerintah untuk segera membenahi sektor transportasi laut. Dia menegaskan, gembar-gembor pemerintah soal pembangunan poros maritim ternyata tak berefek pada jaminan keamanan bagi transportasi laut.

“Artinya, bisa jadi poros maritim selama ini hanya jargon saja. Tidak dirancang dan dikerjakan secara serius,” ujar Fadli.

Wakil ketua DPR yang mengoordinasikan urusan politik, hukum dan keamanan itu menegaskan, Indonesia sebagai negara kepulauan seharusnya memiliki priprotas tinggi terhadap jaminan keselamatan kapal penumpang. Sementara selama ini, katanya, fokus pemerintah masih soal transportasi darat dan infrastrukturnya.

“Perlu dipikirkan secara serius pelayanan transportasi air, baik laut, danau, dan sungai,” paparnya.

Dia menambahkan, kejadian itu seharusnya bisa dihindari jika pemerintah melihat tren kenaikan angka kecelakaan laut. Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat pada 2014 ada tujuh kecelakaan kapal laut.

Angkanya bertambah pada 2015 ada 11 kecelakaan. Sedangkan pada 2016 meningkat menjadi 18 kecelakaan.

Pada 2017 angkanya meningkat menjadi 34 kecelakaan. “Ini bukan perkembangan baik. Peningkatan jumlah kecelakaan, mengesankan seperti adanya pembiaran yang cukup lama pada keselamatan dan keamanan kapal penumpang,” katanya.

Ironisnya, lanjut Fadli, meski angka kecelakaan meningkat, tak ada perhatian terhadap peningkatan transportasi air. Menurutnya, fokus pemerintah justru lebih pada pembangunan transportasi darat, seperti jalan tol yang mudah terlihat dan populer.

Karena itu Fadli meminta Kementerian Perhubungan segera membenahi penataan sistem dan infrastruktur transportasi laut. Hal yang harus diperhatikan adalah sistem pengawasan terhadap kondisi kapal.

“Dalam kasus KM Sinar Bangun kemarin, misalnya, bagaimana bisa kapal yang tak memiliki manifes diizinkan berlayar? Itu semua menunjukkan pengawasan sektor transportasi laut memang sangat minim,” kata Fadli.

Karena itu dia mengharapkan kecelakaan KM  Lestari Maju harus menjadi yang terakhir. Peristiwa itu harus menjadi momentum bagi pemerintah khususnya Kementerian Perhubungan menata dan memperbaiki sistem dan infrastruktur transportasi air Indonesia lebih serius.

“Jangan sekadar jargon.  Pemerintah juga jangan terus menerus mengurusi jalan tol, tapi mengabaikan transportasi lainnya. Kita berharap kecelakaan serupa tidak terulang kedepannya,” pungkasnya

 

Sumber

© Copyright 2015.