
Seni musik daerah merupakan kekayaan budaya yang perlu dikembangkan.
Keberagaman tradisi dan budaya Nusantara menjadi penguat rasa persatuan nasional. Perbedaan menjadi kekuatan, bukan ancaman.
Karena itu, pemahaman terhadap keragaman seni menjadi titik masuk untuk dialog budaya Indonesia.
Orkes musik Gumarang yang berakar dari budaya Minangkabau merupakan contoh diterimanya berbagai kebhinekaan seni itu.
Gumarang, yang banyak mendendangkan lagu Minangkabau bisa diterima publik dari berbagai etnis berbeda.
Demikian diungkapkan Wakil Ketua DPR RI, yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, pendiri Rumah Budaya Fadli Zon, Fadli Zon dalam acara Peluncuran Buku “Orkes Gumarang: Kisah Syaiful Nawas,” karya Fadli Zon di Aie Angek Cottage, Sumatera Barat, Sabtu (25/2/2017).
Acara ini dihadiri langsung oleh dua legenda personel orkes Gumarang Anas Joesoef (81 tahun) dan Syaiful Nawas (85 tahun).
Hadir juga beberapa Bupati, pimpinan dan anggota DPRD Sumatera Barat, seniman dan budayawan se-Sumatera Barat dan penggemar musik serta duta buku Najwa Shihab.
“Buku Orkes Gumarang mencatat sejarah musik di masa 1950-an dan 1960-an,” kata Fadli Zon.
Gumarang mulanya dipimpin oleh Anwar Anif, lalu Alidir dan terakhir Asbon Madjid.
Penyanyi utamanya yang terkenal adalah Nurseha, dengan lagu fenomenal ketika itu “Ayam Den Lapeh”.
Selain Nurseha, vokalis Gumarang adalah Anas Joesoef dan Syaiful Nawas. Anas Joesoef kemudian melanjutkan studi vokal dan karir di Jerman selama 52 tahun pada 1960.
Baru kembali ke Indonesia tahun 2013.
Syaiful Nawas mendirikan Syaiful Nawas Combo dan menjadi penulis dan wartawan yang produktif.
Ia termasuk wartawan pertama yang masuk ke Timor Timur pada 1976 ketika proses integrasi.
Orkes Gumarang yang lahir pada tahun 1954, dalam sepuluh perjalanannya mampu memberi bukti bahwa musik daerah bisa diterima menjadi musik nasional dan bahkan internasional.
Orkes Gumarang boleh dibilang merupakan cikal bakal grup musik atau band di Indonesia, kata Fadli Zon.
Piringan Hitam Gumarang pada masa itu termasuk yang laris di pasaran.
Lagu-lagunya diputar di RRI dan sering tampil di TVRI.
Buku yg ditulis Fadli Zon ini menjadi tambahan khazanah tentang sejarah musik Indonesia khususnya yang mengangkat sebuah kelompok musik daerah.
Di masa jayanya, Gumarang bisa fenomenal dan dominan sebagai musik yang mewarnai musik nusantara.
Gumarang juga ikut bermain film bersama Usmar Ismail dan mengisi musik sejumlah film.
Gumarang sering tampil di berbagai kota antara lain pentas di Medan, Tanjung Pinang, Palembang, Bandung, Surabaya, dan Bali. Juga dihadapan Presiden Soekarno, Hatta, Lee Kwan Yew dan banyak lagi.
Memang pada masa itu pemerintah Presiden Soekarno sangat mendukung kemajuan musik Nusantara ketimbang musik Barat, yang dianggap musik ngak ngik ngok.
Fadli Zon mengatakan, sejumlah kesulitannya menulis buku gumarang ini karena data sulit diperoleh. Penulisannya sudah dimulai 2010, tapi banyak interupsi karena kegiatan, akhirnya baru bisa tuntas sekarang, kata Fadli.
Selain wawancara dengan Syaiful Nawas, buku ini menggali dokumen liputan media pada kurun 1950-an hingga 1960-an.
Lalu, wawancara dengan Anas Joesoef, Awaluddin Djamin, Elly Kasim, Idris Sardi, Remy Silado dan Taufiq Ismail.
Awaluddin Djamin, belakangan menjadi Kapolri, adalah orang memberi gagasan nama “Gumarang” ketika anak-anak muda kreatif dan berbakat kumpul-kumpul berniat mendirikan grup musik di akhir tahun 1953.
“Saya ucapkan terimakasih kepada Fadli Zon yang sudah menuliskan dan menerbitkan perjalanan Orkes Gumarang dan menggelar acara peluncuran buku ini. Buku ini bisa memberi inspirasi buat anak muda Minang dan pecinta musik Indonesia,” ungkap Syaiful Nawas.
Syaiful Nawas menceritakan sepenggal perjalanan orkes Gumarang. Ia tetap bersemangat dan bergairah menyanyi walau di usia senja.
Sedangkan Anas Joesoef berbagi pengalaman ketika berkarir di Jerman sebagai penyanyi opera puluhan tahun.
Ia memperistri Ingrid Michele, juga penyanyi di Jerman.
Dalam peluncuran buku Orkes Gumarang itu Syaiful Nawas yang juga pencipta lagu ini menyanyikan lagu-lagu kreasinya antara lain “Sansaro” yang berkolaborasi dengan Bing Slamet.
Anas Joesoef yang tahun 1959 menjadi juara 1 nasional seriosa, membawakan lagu karyanya “Sayang Tak Sudah.
“Tinggal dua orang tokoh ini yang tersisa dari personel musisi Gumarang,” kata Fadli Zon.
Acara di ruang terbuka antara Gunung Singgalang dan Merapi ini dihibur juga oleh penyanyi muda Minang, Ria Amelia yang menyanyikan lagu-lagu Gumarang.
Petatah petitih Minang oleh Mak Katik membuat suasana kental rasa tradisi Minang.
Acara ini ditutup dengan pemberian secara simbolik buku Orkes Gumarang oleh Fadli Zon kepada dua legenda musik Minang Syaiful Nawas dan Anas Joesoef.
Penandatangan buku diiringi lagu Ayam Den Lapeh.
Selain peluncuran buku, Fadli Zon juga menyerahkan patung Tan Malaka pada Datuk Hengki Tan Malaka hasil perupa ISI Yogya yg terbuat dari perunggu sebagai peringatan wafatnya Tan Malaka, Februari 1949.