
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah gaya komunikasi politik Prabowo Subianto meniru cara Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berkampanye di Pilpres Amerika Serikat. Pola yang dimaksud adalah menebar ketakutan di kalangan kelas bawah.
“Nggak ada, ketakutan kayak gimana? Pertama, Pak Prabowo mengingatkan sejumlah masalah yang dihadapi bangsa kita. Itu bukan menebarkan ketakutan,” kata Fadli di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 4 April 2018.
Wakil Ketua DPR itu menilai lembaga survei Indobarometer salah paham mempersepsikan gaya komunikasi politik Prabowo Subianto. Menurutnya, Indobarometer tak bisa membedakan antara persoalan bangsa dan menebar ketakutan.
“Seharusnya tidak boleh salah paham seperti itu. Yang disampaikan Pak Prabowo adalah persoalan-persoalan kebangsaan yang harus dihadapi, tentang kemiskinan, korupsi, macam-macam, ketimpangan, impor,” ujar Fadli
Fadli menganggap wajar ada pihak-pihak yang tak suka dengan realitas fakta persoalan di negeri ini. Ketika apa yang disampaiakan Prabowo menyakitkan bagi pemerintah.
“Pak Prabowo itu bicara apa adanya, dan bicara apa adanya itu kadang-kadang realitas itu menyakitkan. Mungkin itu yang dianggap menakutkan. Menakutkan bagi kekuasaan yang gagal iya, tapi bagi rakyat itu yang dirasa, merasa terwakili dengan apa yang disampaikan Prabowo,” pungkas dia.
Sebelumnya, Direktur Ekskutif Indobarometer M. Qodari mengatakan Prabowo Subianto menerapkan strategi mempertentangkan kalangan atas dengan kalangan bawah. Strategi ini persis apa yang dilakukan Donald Trump saat kampanye Pilres Amerika Serikat 2016 lalu.
Saat itu Trump menggunakan isu kesenjangan sosial di AS. Trump juga menebar isu ancaman asing dari Tiongkok dan imigran muslim dan Meksiko.
“Menurut saya, ini agak mirip. Jadi yang disebarkan adalah pesimisme, kemudian ketakutan. Dan kalau kita lihat kasus di Amerika ternyata pesimisme dan ketakutan itu dibeli oleh rakyat Amerika sehingga mereka memilih Donald Trump,” tutur dia.