
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menerima audiensi Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM) Jakarta Raya.
Dalam pertemuan itu, terungkap sejumlah masalah internal yang dihadapi organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1963 itu, diantaranya tidak memiliki basecamp untuk berkumpul dan tidak memiliki pembina untuk menjadi panutan.
“Semula mereka punya sekretariat di kantor penghubung Sumatera Barat, di Matraman, Jakarta Timur, jadi mereka bisa berkumpul disitu. Tapi ketika kantor penghubung itu diubah menjadi hotel yang besar, mereka tidak ada tempat berkumpul lagi,” kata Fadli di ruang kerjanya, Gedung DPR RI, Senayan, Rabu (21/3/2018).
Setelah dibangun menjadi sebuah hotel, Sekretariat KMM masih diizinkan untuk tetap beroperasi di sana, namun dikenakan biaya sebesar 80 juta per tahun.
Mengingat keseluruhan anggota adalah seorang mahasiswa, mereka tidak menyanggupi itu. Sehingga sampai dengan saat ini, diakui sangat sulit mendapatkan tempat untuk mengadakan rapat kerja dan silaturahmi.
Menyadari mahasiswa merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang penting dan sebagai agen perubahan sosial, Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Politik dan Keamanan itu berjanji akan membantu memfasilitasi tempat untuk mereka mengadakan pertemuan.
“Mereka ini kan bagian yang sangat penting, mereka mendapat privillage untuk sekolah di perguruan tinggi, nanti biasanya mereka akan menjadi tokoh-tokoh penting saat kembali ke daerah masing-masing. Nanti saya akan coba bantu fasilitasi. Kalau untuk pertemuan-pertemuan nanti kan bisa dimana saja gampang,” ujarnya.
Perwakilan KMM diminta untuk mendata jumlah anggota yang berada di 20 perguruan tinggi di Jakarta, agar memudahkan Fadli dalam menentukan tempat mana yang memadai untuk dijadikan basecamp KMM.
Masalah lain yang menjadi persoalan adalah dari awal organisasi ini dibangun sampai dengan saat ini, tidak memiliki pembina sebagai sosok yang dijadikan panutan dan tempat untuk mengadu.
Sehingga mereka meminta kesediaan Fadli untuk menjadi Pembina KMM Jakarta Raya. Menanggapi permintaan itu, Fadli Zon tidak keberatan dan akan mempertimbangkan hal tersebut.
“Saya kira ini bagian dari upaya kita untuk melakukan networking dengan semua elemen masyarakat. Tentu ini perlu kita dengar dan perlu dipertimbangkan,” tutupnya.